Rabu, 05 Februari 2014

Pola Asuh Orang Tua


1.    Pengertian
Pola asuh orang tua dalam perkembangan anak adalah sebuah cara yang digunakan dalam proses interaksi yang berkelanjutan antara orang tua dan anak untuk membentuk hubungan yang hangat dan memfasilitasai anak untuk mengembangkan kemampuan anak dalam perkembangan motorik halus, motorik kasar, bahasa, dan kemampuan sosial sesuai dengan tahap perkembangannya serta mendorong peningkatan kemampuan berperilaku sesuai dengan nilai agama dan budaya yang diyakininya (Supartini 2004, h. 35).
2.    Jenis pola asuh orang tua
Menurut (Wong 2008, h.52) pola asuh orang tua dibagi menjadi 3 yaitu:
a.    Pola asuh otoriter
Pola pengasuhan anak otoriter bersifat pemaksaan, keras dan kaku, dimana orang tua akan membuat berbagai aturan yang harus dipatuhi anak-anaknya, tanpa mau mengetahui perasaan anak, ini menyebabkan komunikasi satu arah saja dan tidak ada feed back dalam mengasuh anak. Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh anak-anak dengan alasan agar anak tetap patuh dan disiplin serta menghormati orang tua yang telah membesarkannya (Wong 2008, h.51).
Pola asuh otoriter orang tua akan menekan daya kreativitas anak yang sedang berkembang, anak tidak akan berani mencoba, dan anak tidak akan mengembangkan kemampuan untuk melakukan sesuatu karena tidak dapat kesempatan untuk mencoba. Anak juga akan takut untuk mengemukakan pendapatnya, sehingga anak menjadi pasif dalam pergaulan (Yusniah, 2008).
b.    Pola asuh demokratis
Pola asuh demokratis adalah orang tua akan melatih anak-anak untuk mengeksplorasi apa yang ada pada diri anak tersebut, sehingga terjadi interaksi dua arah yang saling berkesinambungan. Anak yang diasuh dengan pola asuh demokratis ini, menghasilkan anak yang mempunyai harga diri tinggi, rasa ingin tahu yang besar, puas, kreatif, cerdas, percaya diri, terbuka pada orang tua, menghargai dan menghormati orang tua, tidak mudah stress dan depresi, berprestasi baik dan dapat berinteraksi dengan anak-anak lain (Wong 2008, h.52).
Penerapan pola asuh demokratis berdampak positif terhadap perkembangan anak, karena anak senantiasa dilatih untuk mengambil keputusan dan siap menerima segala konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dengan demikian potensi yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal, karena anak melakukan segala aktivitas sesuai dengan kehendak dan potensinya. Sementara orang tua memberikan kontrol dan bimbingan ketika anak melakukan hal-hal negatif (Yusniah, 2008).
c.    Pola asuh permisif
Pola asuh permisif adalah pola asuh dimana orang tua jarang atau tidak pernah mengontrol perbuatan anaknya. Orang tua memberikan kesempatan pada anak seluas-luasnya dengan pertimbangan bahwa orang tua adalah sumber informasi bagi anak bukan sebagai role model, dengan begitu anak berkembang menjadi anak yang kurang perhatian, anak tidak disiplin, tidak hormat, tidak sensitif, agresif dan umumnya anak menentang kemauan orang tua, merasa tidak berarti, rendah diri, nakal, memiliki kemampuan sosialisasi yang buruk, kontrol diri buruk, dan kurang menghargai orang lain (Wong 2008, h.52).
Pola asuh ini biasanya akan menghasilkan anak–anak yang manja, tidak patuh, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial (Baumrind, 1967 dalam Nuraeni, 2006)
3.    Pola asuh orang tua pada anak toddler (usia 1-3 tahun)
a.    Anak usia 1 tahun (12-18 bulan)
Menurut Laurent (2007, hh. 176-206) pola asuh orang tua pada anak usia 1 tahun adalah sebagai berikut :
1)    Orang tua hendaknya selalu mengajak anak berbicara dan bermain interaktif karena dapat membantu untuk meningkatkan pemahamannya dan membuat anak mampu mengikuti perintah verbal sederhana.
2)    Orang tua harus memahami sesuatu yang ada pada anak dan mampu menahan diri untuk selalu membantunya dan khawatir walaupun anak dalam keadaan menangis.
3)    Orang tua jangan memarahi anak ketika anak berbuat sesuka hatinya, karena anak mulai sadar dengan kemampuannya, orang tua hendaknya mengawasinya dan membiarkannya belajar.
4)    Orang tua hendaknya memberikan pelukan dan pujian ketika anak dapat melakukan hal-hal yang baik., dan cobalah utuk lebih tidak menghiraukan tingkah laku buruknya sehingga secara bertahap anak akan mengerti maksud anda.
5)     Gunakan pengalihan perhatian ketika anak sedang emosi, jangan berkata “tidak” ketika anak marah tetapi ajaklah anak memainkan permainan favoritnya, agar anak tidak belajar mencari perhatian dengan cara-cara yang mengesalkan.
6)    Orang tua harus membantu anaknya untuk belajar berbagi karena pada tahap ini anak cenderung lebih posesif terutama terhadap mainannya.
7)    Jangan gunakan kekerasan seperti memukul anak ketika anak tidak bertingkahlaku sesuai keinginan orang tua, karena pada masa ini anak belum mampu mengambil pelajaran dari hukuman fisik.
8)    Berikan beragam makanan sehat tanpa harus memaksa mengkonsumsi makanan yang tidak anak sukai dan biarkan anak untuk memilih sesuai dengan apa yang dinginkan.
9)    Orang tua hendaknya melibatkan anak sesering mungkin dalam melaksanakan tugas sehati-hari, seperti membiarkan anak belajar memakai pakaiannya sendiri serta memilih pakaian mana yang akan di pakai.
10)    Anak pada tahap ini memang lebih aktif, sebagai orang tua hendaknya lebih bisa mengawasinya dan jangan melarangnya karena takut anak mengalami lecet-lecet atau memar tetapi lebih dihindarkan pada hal-hal yang berbahaya.
11)    Ajaklah anak untuk mengobrol meskipun hanya orang tua yang memahami bahasanya, karena anak dapat memahami apa yang anda bicarakan, mampu mengikuti perintah serta memahami celotehnya.
12)    Bersamaan dengan bertumbuhnya tingkat pemahaman anak, muncul ketakutan yang irasional seperti takut gelap, atau takut hewan, sebagai orang tua cobalah untuk bersimpati dan pada saat yang sama menunjukkan bahwa anda tidak takut.
13)    Hindari membujuk yang berlebihan hanya supaya anak mau makan karena anak akan cenderung selalu melawan jika anak terus memaksanya makan dan doronglah anak untuk makan sendiri baik dengan tangan atau sendok
b.    Anak usia 2 tahun (18-24 bulan)
Menurut Laurent (2007, hh. 217-244) pola asuh orang tua pada anak usia 2 tahun adalah sebagai berikut :
1)    Saat anak mulai berlari, orang tua menyingkirkan segala rintangan dan jauhkan dari tangga.
2)    Ketika anak melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatian orang tuanya, orang tua hendaknya memahami hal tersebut dan memberikan penjelasan bahwa tidak seharusnya dia berbuat seperti itu.
3)    Biarkan anak meniru semua pekerjaan yang orang tua lakukan, Selama apa yang anak lakukan tidak membahayakannya.
4)    Berikan pujian kepada anak ketika anak melakukan apa yang diperintahakan.
5)    Dampingi anak saat bermain dan berilah permainan sesuai dengan apa yang anak inginkan seperti ketika anak ingin mencoret-coret maka berikan anak kertas serta pensil.
6)    Biarkan anak belajar makan dan minum sendiri  dan jangan mempermasalahkan jika makanannya berceceran karena ini merupakan tahap belajar anak.
7)    Berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba keterampilan merawat dirinya seperti melepas pakaian dan memakai sepatu, hal ini penting untuk perkembangan kemandirian anak.
8)    Ajarkan kepada anak untuk berbagi, memuji serta harus mengajarkan sopan santun terhadap orang yang lebih dewasa sehingga anak akan memperoleh keterampilan sosial yang dibutuhkannya untuk berinterkasi dengan orang lain.
9)    Biarkan anak ketika belajar memakai pakaiannya sendiri atau melepasnya, mencuci tangan dan bersabarlah untuk tetap mengawasinya.
10)    Jangan mencoba menghentikan tantrum dengan mengabulkan keinginannya.
c.    Anak usia 3 tahun (24-36 bulan)
Menurut Laurent (2007, hh. 25-36 ) pola asuh orang tua pada anak usia 3 tahun adalah sebagai berikut :
1)    Jangan memaksakan anak untuk menyantap makanan yang tidak anak inginkan karena akan membuatnya semakin tidak menyukainya. Namun, orang tua dapat mengajarinya dengan mencicipinya terlebih dahulu.
2)    Ketika anak sudah bosan dengan sebuah mainan, singkirkan agar tidak mengganggu aktivitas yang lainnya.
3)    Anak sudah memahami rangkaian kalimat yang diucapkan orang lain, maka hindari mengatakan apapun yang tidak diinginkan untuk ditiru.
4)    Ajarkan anak untuk lebih mudah berpisah dengan orang tua, ajarkan anak untuk bisa bermain secara mandiri.
5)    Jelaskan kepada anak ketika orang tua hendak meninggalkannya, seperti dengan memelukknya dan menciumnya atau dengan meberikanya mainan favoritnya agar anak lebih merasa tenang.
6)    Berikan perhatian yang positif kepada anak, pujilah jika melakukan sesuatu dengan baik akan membangun rasa percaya diri dan harga diri.
7)    Tingkatkan kemajuan anak dengan melatihnya mengerjakan keterampilan yang lebih mudah dulu seperti memakai celana dan sepatu.
8)    Anak pada usia ini cenderung lebih condong dengan anak seusianya biarkan anak bermain dengan orang-orang yang disukai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar