Bayi merupakan makhluk yang perlu dilindungi. Semua kebutuhannya harus dipenuhi seperti yang diinginkannya, tetapi ia belum pandai menyatakan keinginan itu. Ia hanya pandai menangis. Bila ibu mendengar bayinya menangis, ibu yang pertama kali mempunyai bayi tentu merasa bingung, tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.
Pada saat bayi lahir yang dapat dilakukan bayi ialah menggerakkan bibir dan lidahnya berupa gerakan mengisap dan meludah. Bila bayi diberi susu, air manis, dan sebagainya, ia mengisap-isap. Bila ia diberi air jeruk yang masam, obat yang pahit, ia meludah-ludah mengeluarkan benda yang tidak enak itu.
A. Perkembangan fisik bayi
Selama dua tahun pertama kehidupannya, perkembangan fisik bayi berlanssung sangat ekstensif. Pada saat lahir, bayi memilki kepala yang sanat besar dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain.tubuhnya bergerak terus menerus ke kiri dan kanan dan sering kali tidak dapa dikendalikan. Mereka juga memiliki refleks yang didominasi oleh gerakan-gerakan yang terus berkembang. Dalam rentang waktu 12 bulan, bayi-bayi dapat duduk, berdiri, membungkuk, memanjat, dan bahkan berjalan. Kemudian, selama tahun kedua, pertumbuhan fisiknya melambat, tetapi pada kegiatan-kegiatan seperti berlari dan memanjat pertumbuhannya justru berlangsung cepat.
Pola perkembangan fisik selama masa bayi:
a. Berat
Pada usia empat bulan, berat bayi bertambahdua kali lipat. Pada usia satu tahun berat bayi rata-rata tiga kali berat pada waktu ia lahir atau sekitar 21 pon. Pada usia dua tahun rata-rata berat bayi Amerika adalah 25 pon. Peningkatan berat tubuh selama bayi terutama disebabkan karena penigkatan jaringan lemak.
b. Tinggi
Pada usia empat bulan, ukuran bayi antara 23 dan 24 inci, pada usia satu tahun antara 28 dan 30 inci, dan pada usia dua tahun antara 32 dan 34 inci.
c. Proporsi fisik
Pertumbuhan kepala berkurang dalam masa bayi, sedangkan pertumbuhan badan dan tungkai meningkatan. Jadi bayi berangsur-angsur menjadi kurang berat di atas dan tampak lebih ramping dan tidak gempal pada masa akhir bayi.
d. Tulang
Jumlah tulang meningkat selama bayi. Pengerasan tulang dimulai pada awal tahun pertama, tetapi belum selesai sampai masa puber. Ubun-ubun atau daerah otak yang lunak 50% bayi yang lahir telah tertutup pada usia delapan belas bulan, dan pada hampir semua bayi telah tertutup pada dua tahun.
e. Otot dan lemak
Urat otot sudah pada ada waktu lahir tetapi dalam bentuk yang belum berkembang lambat selama masa bayi dan lemah. Sebaliknya, jaringan lemak berkembang pesat, sebagian kerena tingginya kadar lemak di dalam susu yang merupakan bahan makanan pokok bagi bayi.
f. Bangun tubuh
Selama tahun kedua, ketika proporsi tubuh berubah, bayi mulai memperlihatkan kecenderungan bangun tubuh yang karakteristik. Tiga bentuk bangun tubuh yang paling lazim adalah ektomorfik, yang cenderung panjang dan langsing, endomorfik, yang cenderung bulat dan gemuk, dan mesomorfik, yang cenderung berat, keras, dan empat persegi panjang.
g. Gigi
Rata-rata bayi mempunyai empat hingga enam gigi susu pada usia satu tahun dan 16 pada usia dua tahun. Gigi yang pertama muncul adalah gigi depan, sedangkan yang terakhir adalah gigi geraham. Empat gigi susu terakhir biasanya baru muncul pada tahun pertama masa kanak-kanak.
h. Susunan saraf
Pada waktu lahir, berat otak adalah seperdelapan berat total bayi, pertambahan berat otak paling pesat pada usia dua tahun. Otak kecil yang berperan penting untuk menjaga keseimbangan dan perasaan tubuh, bertambah beratnya tiga kali lipat satu tahun sesudah kelahiran. Ini berlaku juga untuk otak besar. Sel-sel yang belum matang, yang ada pada waktu kelahiran, terus berkembang sesudah kelahiran tetapi secara relative beberapa sel baru terbentuk.
i. Perkembangan organ perasa
Pada usia tiga bulan, otot mata sudah cukup terkoordinasi untuk memungkinkan bayi melihat sesuatu secara jelas dan nyatadan sel-sel kerucut sudah berkembang baik untuk memungkinkan mereka melihat warna. Pendenganran berkembang pesat selama waktu ini. Penciuman dan pengecapan yang berkembang baik pada waktu kelahiran, terus membaik selama masa bayi. Bayi sangat tanggap terhadap semua perangsang kulit karena tekstur kulit mereka yang tipis dan kaena semua organ perasa yang berhubungan denagn peraba, tekanan, rasa sakit, dan suhu berkembang dengan baik.
B. Perkembangan pengamatan bayi
Pengamatan pada anak kecil bersifat global. Yang mula-mula dilihatnya berupa kesan seluruhnya, kesan umum yang kabur. Kesan-kesan seluruhnya yang tampak samar-samar itu dalam bahasa Jerman disebut gestalt, yaitu totalitas yang mengandung arti yang penuh. Orang yang pertama dikenalnya hanya ibu, itu pun pada saat-saat ibu menyusukannya. Sambil menyusu diperhatikannya wajah ibu, yang tampak hanya berupa kesan umum yang kabur.
Kemudian, setelah berulang kali mengamati wajah ibu dengan lebih baik, barulah tampak lebih jelas bagian-bagian wajah ibu, seperti: mata, hidung, mulutnya, dan sebagainya. Gestalt yang kabur itu sekarang mendapat struktur. Demikianlah pengamatan anak itu berkembang dari gestalt berangsur-angsur menuju ke struktur.
C. Perkembangan daya ingat bayi
Kognitif adalah sebuah istilah yang dipergunakan oleh psikolog untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan atau semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai, dan memikirkan lingkungannya. Selama masa bayi, kapasitas intelektual atau kognitif bayi telah mengalami perkembangan.
Perkembangan kogntif menurut Piaget, usia bayi berada pada periode sensorimotor. Bayi mengenal obyek-obyek yang berada di lingkungannya melalui sistem pengindraan dan gerakan motoriknya. Meskipun ketika dilahirkan, seorang bayi sangat bergantung dan tidak berdaya, tetapi sebagian alat-alat indranya sudah langsung bisa berfungsi, ada enam subperiode sensorimotor, sebagai berikut:
1. Modifikasi (pelatihan refleks-refleks) usia 0 - 1 bulan.
Pada fase ini masih terbatas pada kemampuannya untuk melatih refleks-refleks, seperti: menghisap atau menghirup, dan menggenggam. Berkembangnya persepsi egosentris masih belum bisa membedakan dirinya dengan obyek-obyek lain dan melakukan kegiatan refleks.
2. Pengembangan skema (reaksi pengulangan pertama = primary circular reactions) usia 1 - 4 bulan.
Bayi melakukan kegiatan yang menyenangkan secara sirkular (berulang-ulang) dan bersifat primer (berhubungan dengan tubuh), seperti: mengenyot jempol secara berulang-ulang karena menyenangkan sehingga menjadi kebiasaan.
3. Reaksi pengulangan kedua (secondary circular reactions) usia 4 – 6 bulan.
Tingkah lakunya lebih berorientasi ke luar. Bayi mengembangkan minatnya atau perhatiannya terhadap peristiwa atau lingkungan sekitarnya. Bayi mulai bisa memanipulasi obyek-obyek. Mulai mengimitasi dan menyusun persepsi klasifikasi dan relasi. Mengulang kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, seperti: menggerak-gerakkan mainan yang mengeluarkan bunyi yang menarik, mengembangkan koordinasi mata tangan.
4. Koordinasi reaksi-reaksi (skema sekunder atau mengembangkan tingkah laku intensional) 8 – 12 bulan.
Mulai berkembangnya tingkah laku yang interpersonal (disengaja/bertujuan). Bayi mulai dapat membuat cara untuk mencapai tujuan (sesuatu yang diinginkan). Menggunakan kegiatan-kegiatan yang sudah biasa untuk menghadapi situasi baru. Contoh: anak sudah mampu mengangkat bantal dengan satu tangan, sedang tangan yang lain memegang mainan.
5. Reaksi pengulangan ketiga (eksplorasi) usia 12 – 18 bulan.
Bayi mulai mengubah skema secara sistematik untuk menghasilkan efek-efek baru. Dapat memecahkan masalah melalui trial and error. Anak secara gradual belajar tentang dampak kegiatannya terhadap lingkungannya, dia mulai memahami hubungan sebab akibat, dia sudah dapat menemukan cara memperlakukan suatu objek agar menghasilkan sesuatu yang menarik (menyenangkan). Seperti pada tahap ke empat anak menemukan kesenangan dengan menekan atau memijit mainan. Pada tahap ini anak dapat menemukan cara baru untuk memperoleh tujuan yang sama, seperti dengan cara menginjaknya atau meninjunya dengan tangan.
6. Permulaan berpikir (representasi mental) usia 18 – 24 bulan.
Anak sudah mulai mengembangkan kemampuan untuk memahami fungsi-fungsi simbolik atau reppresentasi mental. Sebagai prestasi puncak tahap sensorimotor adalah kemampuan menginternalisasi skema-skema tingkah laku untuk membentuk simbol-simbol mental, atau imajinasi. Pada tahap ini, anak sudah berekspresi secara mental dan memiliki insight untuk memecahkan masalah.
D. Perkembangan Emosi Masa Bayi
Pada bayi terdapat pola emosi tertentu yang bersifat umum seperti kemarahan (menjerit, meronta, menendang, mengibaskan tangan, memukul), ketakutan (takut terhadap ruang gelap, tempat tinggi, dan binatang), (rasa ingin tahu tehadap mainan baru menjulurkan lidah, membuka mulut, memegang, melempar, mebolak-balik), kegembiraan (tersenyum, tertawa, menggerakan lengan serta kakinya), efeksi (memeluk mainan kesayanganya, mencium barang-barang kesayanganya).
Usia 0-8 minggu, kehidupan bayi sangat dikuasai oleh emosi. Emosi sangat berhubungan dengan perasaan indrawi, dengan kualitas perasaan: senang (like) dan tidak senang (dislike) jasmaniah. Misalnya, bayi senyum atau tidur pulas kalau merasa kenyang, hangat dan nyaman; dan dia menangis kalau merasa lapar, haus, kedinginan atau sakit.
Usia 8 minggu – 1 tahun, perasaan psikis sudah mulai berkembang. Perasaan anak mengalami diferensiasi (penguraian), yaitu dari perasaan senang dan tidak senang jasmaniah menjadi perasaan-perasaan senang, tidak senang, marah, jengkel, terkejut, dan takut.
Usia 1,0 tahun – 3,0 tahun gejala-gejala perkembangan emosi pada usia ini , perkembangan emosinya sebagai berikut.
a. Emosinya sudah mulai terarah pada sesuatu (orang, benda, atau makhluk lain)
b. Sejajar dengan perkembangan bahasa yang sudah dimulai pada usia 2 tahun maka anak dapat menyatakan perasaannya dengan menggunakan bahasa.
c. Sifat-sifat perasaan anak pada fase ini:
1). Labil, artinya mudah kembali berubah (sebentar menangis, kemudian tertawa).
2). Mudah “tersulut” tetapi tidak bertahan lama dan sifatnya dangkal.
1. Ungkapan-ungkapan Emosi
Tidak diragukan lagi, bahwa bentuk prabicara yang paling efektif adalah ungkapan emosi. Hal ini disebabkan karena tidak ada yang lebih ekspresif dari isyarat-isyarat wajah yang oleh bayi digunakan untuk mengatakan keadaan emosinya kepada orang lain. Ungkapan emosi merupakan bentuk prabicara yang bermanfaat karena ada dua alasan. Pertama, karena bayi belum mempelajari pengendalian emosi, maka mudahlah bagi orang lain untuk mengetahui emosi apa yang mereka alami melalui ungkapan-ungkapan wajah dan badan. Kedua, bayi lebih mudah mengerti orang lain melalui ungkapan wajah daripada kata-kata.
2. Pola Emosional yang lazim
a) Kemarahan
Stimulus yang biasa membangkitkan rasa marah pada bayi adalah campur tangan terhadap gerakan-gerakan mencoba-cobanya, menghalangi keinginannya, tidak mengizinkan mengerti sendiri dan tidak memperkenalkannya melakukan apa yang dia inginkan.
b) Ketakutan
Hal yang paling mungkin menimbulkan ketakutannya adalah suara keras, orang, barang dan situasi asing, ruangan gelap, tempat yang tinggi dan binatang. Perangsang yang terjadi tiba-tibaatau tidak terduga atau yang tidak lazim baginya, biasanya juga membangkitkan rasa takut.
c) Rasa ingin tahu
Setiap mainan atau sesuatu yang baru dab tidak biasa adalah perangsang untuk perasaan ingin tahunya, kecuali jika kebaruan itu begitu tegas sehingga menimbulkan ketakutan. Bila rasa takut berkurang, maka ia akan mengganti dengan rasa ingin tahu.
d) Kegembiraan
Kegembiraan ditimbulakn oleh kesenangan fisik. Pada bulan kedua, atau ketiga, bayi bereaksi pada orang yang mengajaknya bercanda, menggelitik, mengamati, dan memperhatikannya. Mereka mengungkapkan rasa senang atau kegembiraannya dengan tersenyum, tertawa, dan menggerakkan lengan serta kakinya. Bila rasa senang berlebih, ia berdekut, berdeguk, atau bahkan berteriak denngan gembira, dan semua gerakan tubuh menjadi makin intensif.
e) Afeksi
Setiap orang yang mengajaknya bermain, mengurus kebutuhan jasmaninya, atau memperlihatkan afeksi, merupakan perangsang untuk afeksi mereka. Kemudian, mainan dan hewan kesayangan keluarganya mungkin juga menjadi objek cinta bagi mereka. Umumnya bayi mengungkapkan afeksinya dengan memeluk, menepuk, dan mencium barang atau orang yang dicintai.
E. Perkembangan Moral Masa Bayi
Bayi tidak memiliki hierarki nilai dan suara hati. Bayi tergolong nonmoral, tidak bermoral maupun amoral, dalam artian bahwa tingkah lakunya tidak dibimbing oleh nilai-nilai moral. Lambat laun ia akan mempelajari kode moral dari orang tua dan kemudian dari guru-guru dan teman-teman bermain dan juga ia belajar pentingnya mengikuti kode-kode moral ini.
Belajar berperilaku moral diterima oleh sekitarnya merupakan proses yang lama dan lambat. Tetapi dasar-dasarnya mesti sudah diletakkan pada masa ini dan berdasarkan dasar-dasar inilah bayi membangun kode-kode moral yang membimbing perilakunya bila telah menjadi besar nanti. Bayi berada dalam tahap perkembangan moral oleh piaget disebut sebagai moralitas dengan paksaan yang merupakan tahap pertama dari 3 tahapan perkembangan moral. Tahap ini berakhir sampai usia 7 atau 8 tahun dan ditandai oleh kepatuhan otomatis terhadap aturan-aturan tanpa penalaran atau penilaian.
Dalam hal perkembangan moral, masa bayi perlu diarahkan pada kedisiplinan tentang pola perilaku. Disiplin sangat berperan untuk memberikan hukuman terhadap perilaku yang salah dan bentuk pujian untuk perilaku yang dapat diterima secara sosial. Tujuan utama disiplin dalam masa bayi adalah mengajarkan kepada anak, apa yang menurut ia dianggap olek kelompok sosial sebagai benar dan salah, dan mengusahakan agar ia bertindak sesuai dengan pengetahuan ini. Hal ini mulanya dicapai dengan cara pengendalian dari dalam bila ia sudah dapat mempertanggung jawabkan sendiri perilaku mereka.
Sepanjang masa bayi, bayi harus belajar melakukan reaksi-reaksi khusus yang benar terhadap berbagai situasi tertentu dirumah dan disekelilingnya. Tindakan yang salah haruslah selalu dianggap salah terlepas siapa yang mengasuhnya. Kalau tidak bayi akan bingung dan tidak mengetahui apa yang diharapkan daripadanya.
Dengan disiplin yang ketat, yang meliputi memberikan hukuman atau tindakan yang salah, bayi muda beliapun dapat dipaksa mengikuti suatu pola yang tidak menyulitkan bagi orang tua selama tahun kedua pada saat perilaku menjelajah dan kecenderungan membantah kehendak orang tua mempersulitnya untuk diatur daripada tahun pertama.
Sebelum bayi dihukum karena melakukan kesalahan, bayi harus belajar tentang apa yang benar dan apa yang salah. Hal ini tidak berlangsung dalam satu malam. Karena itu, selama masa bayi, tekanan harus diletakkan pada aspek pendidikan disiplin mengajar bayi menguasai benar dan salah dan memberi hadiah berupa pujian dan perhatian kalau apa yang dilakukan benar daripada menghukum kalau berperilaku salah. Ini tidak berarti bahwa hukuman tidak boleh digunakan. Hukuman harus dilakukan karena mempunyai nilai mendidik. Kalau tangan dipukul karena melakukan hal yang salah, maka pukulan menandakan tindakan yang salah dan tidak boleh diulangi lagi.
Banyak orang tua menganggap bahwa bayi tidak dapat mengerti kata-kata pujian dan karenanya mereka menahan diri untuk mengatakan kepada bayi mereka bahwa mereka telah melakukan sesuatu dengan baik. Meskipun hanya sedikit bayi yang mengerti akan kata-kata pujian, tetapi bayi mengerti ekspresi wajah yang menyenangkan yang mengiringi kata-kata pujian itu, yang berbeda dengan ekspresi yang mengiringi amarah atau bentuk-bentuk hukuman lainnya. Hal ini mendorong bayi untuk mengulangi perilaku yang mendatangkan tanggapan yang baik.
Hal yang penting untuk diketahui pula adalah bahwa penggolongan peran seks semestinya sudah mulai sejak lahir. Hal ini ditunjang pola hubungan ibu dan anak, yang juga mewarnai pola tingkah laku atau kepribadian anak. Demikian pula halnya berkaitan dengan perkembangan pada keagamaan.
F. Perkembangan Agama Masa Bayi
Pada fase perkembangan masa bayi, belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.
Menurut Areaold Gessel, anak usia bayi sudah memiliki perasaan ketuhanan. Perasaan ini memegang peranan penting dalam diri pribadi anak. Perasaan ketuhanan pada usia ini merupakam fundamen bagi pengembangam perasaan ketuhanan periode berikutnya, seiring dengan berkembanganya kondisi, emosi dan bahasa maka untuk membantu kesadaran beragamanya. Orang tua sebagai lingkungan pertama bagi anak seyogianya melakuakan hal hal sebagai berikut :
1. Mengenal nilai nilai dan konsep konsep kepada anak melalui bahasa.
2. Memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang.
3. Memberikan contoh dalam mengamalkan ajaran agam secara baik.
G. Perkembangan Bahasa
Berbicara merupakan sarana berkomunikasi. Untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain, semua individu harus menguasai dua fungsi yang berbeda; kemampuan menangkap maksud yang ingin dikomunikasikan orang lain dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti. Komunikasi dapat dilakukan dalam setiap bentuk bahasa-tulis, lisan, isyarat tangan, ungkapan musik dan artistik, dan sebagainya. Tetapi dalam banyak hal, bahasa lisan merupakan bahasa yang paling efektif dan efisien karena kemungkinan terjadinya salah paham sangat kecil.
Kedua aspek komunikasi, yaitu mengerti apa yang dimaksud oleh orang lain dan kemampuan mengkomunikasikan pikiran dan perasaan sendiri kepada orang lain sehingga dapat dimengerti, terasa sulit dan tidak cepat dikuasai. Tetapi dasar-dasar kedua aspek itu telah diletakkan selama masa bayi, meskipun kemampuan untuk mengerti biasanya lebih besar daripada kemampuan berbicara menjelang berakhirnya masa ini.
Dalam pola belajar berbicara biasanya terdapat empat bentuk prabicara; menangis, berceloteh, isyarat, dan ungkapan-ungkapan emosi. Menangis amat sering dilakukan selama bulan-bulan pertama dan ini merupakan dasar bagi perkembangan bahasa yang sebenarnya, meskipun dari sudut pandang jangka panjang, mengoceh atau berceloteh merupakan tindakan yang paling penting karena sebenarnya inilah yang mengembangkan kemampuan berbicara.
Isyarat dipakai bayi sebagai pengganti bahasa, sedangkan pada anak yang lebih tua atau orang dewasa, isyarat dipakai sebagai pelengkap bahasa. Karena bahasa dipelajari melalui proses meniru, maka bayi perlu memperoleh model atau contoh yang baik supaya dapat meniru kata-kata yang baik. Mengenai pentahapan perkembangan bahasa ini, William Stern dan Clara Stern dalam Syamsu Yusuf (2001: 58) mengemukakan sebagai berikut:
1. Masa permulaan, stadium purwoko (6-12 bulan)
Masa ini disebut masa meraban, yaitu masa mengeluarkan bermacam-macam suara yang tidak berarti. Masa ini sebagai permainan pelatihan alat-alat suara: kerongkongan, mulut, dan bibir.
2. Masa pertama, stadium kalimat satu kata (12-16 bulan)
Pada masa ini anak sudah dapat mengucapkan kata, misalnya mama papa, mamam. Sepatah kata ini sudah merupakan kalimat, tetapi kalimat tidak lengkap. Kata-kata yang diucapkan itu meskipun tidak langsung, tetapi mempunyai maksud tertentu, seperti anak mengucapkan mamah, mungkin ia memanggil mamahnya atau meminta sesuatu dari mamahnya. Pada usia ini anak juga sudah dapat menirukan suara-suara, seperti kucing, burung, kendaraan, dsb.
3. Masa kedua, stadium nama (16-24 bulan)
Pada masa ini anak sudah mulai timbul kesadaran bahwa setiap orang atau benda mempunyai nama, sehingga disebut stadium nama. Di samping nama orang dan benda, juga nama-nama perbuatan yang disaksikan, atau sifat-sifat sesuatu ditanyakan juga keada namanya. Oleh karena itu, anak sering berbicara sendiri (monolog), baik dengan diri sendiri, maupun dengan benda-benda mainannya.
H. Perkembangan Sosialisasi
Penelitian tentang penyesuaian sosial anak-anak yang lebih besar dan bahkan para remaja menunjukkan pentingnya peletakan dasar-dasar sosial pada masa bayi. Hal ini berdasarkan dua alasan. Pertama, jenis perilaku yang diperlihatkan bayi-bayi dalam situasi sosial mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosialnya.
Alasan kedua mengapa dasar-dasar sosial yang dini itu penting adalah bahwa sekali terbentuk dasar-dasar itu cenderung menetap kalau anak menjadi lebih besar.
Pola Perkembangan Perilaku Sosial
Perilaku sosial dini mengikuti pola yang cukup dapat diramalkan meskipun dapat terjadi perbedaan-perbedaan karena keadaan kesehatan atau keadaan emosi atau kondisi lingkungan.
1. Reaksi sosial kepada orang dewasa
1) Dua sampai Tiga Bulan
Bayi dapat membedakan manusia dari benda mati dan bayi tahu bahwa manusialah yang memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Bayi puas bila berada bersama manusia dan tidak senang kalau ditinggal sendiri.
2) Empat sampai lima bulan
Bayi ingin digendong oleh siapa saja yang mendekatinya. Ia memberikan reaksi yang berbeda kepada wajah-wajah yang tersenyum, suara-suara yang ramah dan suara-suara yang menunjukkan amarah.
3) Enam sampai tujuh bulan
Bayi membedakan “teman” dan “orang asing” dengan tersenyum pada yang pertama dan memperlihatkan ketakutan akan kehadiran pada orang yang terakhir. Ini merupakan awal dari “masa lalu” juga merupakan permulaan dari “masa terikat” yaitu masa dimana bayi menunjukkan keterikatan yang kuat kepada ibunya atau ibu pengganti dan berkurangnya keramah tamahan.
4) Delapan sampai sembilan bulan
Bayi mencoba meniru kata-kata, isyarat dan gerakan-gerakan sederhana dari orang lain.
5) Dua belas bulan
Bayi bereaksi terhadap larangan “jangan-jangan”
6) Enam belas sampai delapan belas bulan
Negativisme, dalam bentuk keras kepala tidak mau mengikuti permintaan atau perintah dari orang dewasa ditunjukkan dengan perilaku menarik diri atau ledakan amarah.
7) Dua puluh dua sampai dua puluh empat bulan
Bayi bekerja sama dalam sejumlah kegiatan rutin seperti berpakaian, makan, dan mandi.
2. Reaksi sosial kepada bayi_bayi lain
a. Empat sampai lima bulan
Bayi mencoba menarik perhatian bayi atau anak lain dengan melambungkan badan ke atas dan ke bawah, menendang, tertawa atau bermain dengan ludah.
b. Enam sampai tujuh bulan
Bayi tersenyum kepada bayi lain dan menunjukkan minat terhadap tangisannya.
c. Sembilan sampai tiga belas bulan
Bayi mencoba meremasi pakaian dan rambut bayi-bayi lain, meniru perilaku dan suara mereka dan bekerja sama dalam menggunakan mainan, meskipun ia cenderung bingung bila bayi lain mengambil salah satu mainannya.
d. Tiga belas sampai delapan belas bulan
Berebut mainan sekarang berkurang dan bayi lebih bekerja sama dalam bermain dan mau berbagi rasa.
e. Delapan belas sampai dua puluh empat bulan
Bayi lebih berminat bermain dengan bayi lain dan menggunakan bahan-bahan permainan untuk membentuk hubungan sosial dengannya.
I. Perkembangan Seks
Penggolongan peran seks, atau belajar memerankan peran-seks yang benar sebenarnya dimulai sejak lahir. Bayi digolongkan sebagai laki-laki atau perempuan melalui warna selimut dan warna popok, dan ia diperlakukan sebagai laki-laki atau perempuan oleh anggota-anggota yang menekankan tentang jenis kelaminnya kepada tamu-tamu yang datang menengok dan mengagumi bayi yang baru lahir.
DAFTAR PUSTAKA
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. PT. Remaja RosdaKarya: Bandung.
Hurlock, Elizabeth B. 1997. Psikologi Perkembangan. ERLANGGA: Jakarta.
http://diy4h.wordpress.com/psikologi-perkembangan/ diakses tgl 21 september 2013 pukul 10.34.
Rochmah, Elfi Yuliani. 2005. Psikologi Perkembangan. TERAS: Yogyakarta.
Yusuf, Syamsu. 2002 Cet.3. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. PT.
Remaja Rosdakarya: Bandung.
Zulkifli. 2002. Psikologi Perkembangan. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung.