Senin, 22 April 2013

Tokoh Filsafat Islam

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pada dasarnya, setiap ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah suatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Adapaun objek formalnya adalah metode untuk memahami objek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif.
Biografi Tokoh
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn Yahya ibn Yahya ibn al- Shai’gh al Tujibi al-Andalusi al-Samqusti ibn Bajjah. Ibnu Bajjah dilahirkan di Saragossa, Andalus pada Tahun 457 H (1082 M), berasal dari keluarga al-Tujib karena itu ia dikenal sebagai al-Tujib yang bekerja sebagai pedagang emas (Bajjah = emas). Tetapi, di barat ia lebih dikenal dengan nama Avempace. Secara mendetail perjalanan hidupnya sejak kecil sampai dewasa kurang diketahui.
Selain sebagai filsuf, Ibn Bajjah dikenal sebagai penyair, komponis, bahkan sewaktu Saragossa berada di bawah kekuasaan Abu Bakar ibn Ibrahim al- Shahrawi (terkenal sebagai ibn Tifalwit) dari daulah Al-Murabithun, Ibn Bajjah dipercayakan sebagai wazir. Tetapi, pada tahun  512 H Saragossa jatuh ke tangan Raja Alfonso I dari Arogan dan Ibn Bajjah terpaksa pindah ke Sevilla. Di kota ini ia bekerja sebagai dokter, kemudian ia pindah ke Granada, dan dari sana ia pindah keAfrika Utara, pusat dinasti Murabithun. Malang bagi Ibn Bajjah, setibanya di kota Syatibah ia ditangkap oleh Amir Abu Ishak Ibrahim ibn Yusuf ibn Tasifin yang menuduhnya sebagai murtad dan pembawa bid’ah. Karena pikiran-pikiran filsafatnya yang asing bagi masyarakat islam di Maghribi yang sangat kental dengan ajran sunni ortodoks. Atas berkat jasa Ibn Rusyd yang pernah menjadi muridnya, Ibn Bajjah dilepaskan. Kondisi masyarakat di Baeber yang belum bisa berpikir filosofis tersebut, menyebabkan ia melanjutkan pengembaraannya ke Fez di Marokko. Di sini ia masih dapat melanjutkan kariernya sebagai ilmuan di bawah perlindungan penguasa Murabithun yang ada di sana. Bahkan, hubungannya dengan pihak penguasa istana berjalan baik, sehinggaia diangkat sebagai menteri oleh abu bakar yahya ibn yusuf ibn tasifin untuk waktu yang lama. Akhirnya, ia meninggal pada 533 H (1138 M) di Fez, dan dimakamkan di samping makam Ibn “Arabi. Menurut atau riwayat, ia meninggal karena diracun oleh seorang dokter bernama Abu al-‘Ala ibn Zuhri yang iri hati terhadap kecerdasan, ilmu, dan ketenarannya     
Di antara karya Ibn Bajjah yang terpenting adalah:
1)    Risalah al-Wada’, berisi tentang penggerak pertama bagi wujud manusia, alam, serta beberapa uraian mengenai kedokteran. Buku ini tersimpan di Perpustakaan Bodleaian.
2)    Risalah tadbir al-Mutawahhid, (tingkat laku sang penyendiri), yang sampai sekarang dikenal melalui salinan Salmon Munk dari terjemahan bahasa Ibrani, tetapi dicetak oleh Asin dari perpustakaan Bodleaian dan diterbitkan sesudah wafatnya denagn terjemahan bahasa Spanyol. Isi kitab ini mirip denagn kitab Al-Farabi , al-madinah al-Fadhilah. Hanya ia lebih menekankan kehidupan individu dalam masyarakat, yang disebut Mutawahhid.  Pemikiran filsafatnya termuat dalam kitab ini.
3)    Kitab al-Nafs, berisi keterangan mengenai kegemaran Ibn Bajjah, yakni pemusatan dalam batas kemungkinan persatuan jiwa manusia dengan Tuhan, sebagai aktivitas manusia yang tertinggi dan kebahagiaan yang tertinggi, yang merupakan tujuan akhir dari wujud manusia.
4)    Risalah al-Ittishal al-Aql bi al-Insan (perhubungan akal dengan manusia), berisi uraian tentang pertemuan manusia dengan akal Fa’al.
5)    Komentar terhadap logika Al-Farabi, sampai sekarang masih di perpustakaan Escurial (Spanyol)
6)    Beberapa ulasan terhadap buku-buku filsafat, antara lain dari Aristoteles, Al-Farabi, phorphyrius dsb. Menurut Carra de Vaux, di perpustakaan Berlim ada 24 risalah manuskript karangna Ibn Bajjah. Diantaranya Tardiyyah
7)    Kitab al-Nabat
8)    Risalah al-Ghayah al-Insaniyyah
Ia adalah Abu Bakar Muhammad bin Yahya, yang terkenal dengan sebutan Ibn-us-Shaigh atau Ibnu Bajjah. Orang-orang Eropa pada abad-abad pertengahan menamai Ibnu Bajjah dengan “Avempace”, sebagaimana mereka menyebut nama-nama Ibnu Sina, Ibnu Gaberol, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd, masing-masing dengan Avicenna, Avicebron, Abubacer, dan Averroes.
Ibnu Bajjah dilahirkan di Saragosta pada abad ke-11 Masehi. Tahun kelahirannya yang pasti tidak diketahui, demikian pula masa kecil dan masa mudanya. Sejauh yang dapat dicatat oleh sejarah ialah bahwa ia hidup di Serville, Granada dan Fas, menulis beberapa risalah tentang logika di kota Serville pada tahun 1118 M, dan meninggal dunia di Fas pada tahun 1138 M ketika usianya belum lagi tua. Menurut satu riwayat, ia meninggal karena diracuni oleh seorang dokter yang iri terhadap kecerdasan, ilmu, dan ketenarannya.
Buku-buku yang ditinggalkannya ialah:
1.    Beberapa risalah dalam ilmu logika, dan sampai sekarang masih tersimpan di Perpustakaan Escurial (Spanyol)
2.    Risalah tentang jiwa
3.    Risalah al-Ittisal, mengenai pertemuan manusia dan akal-faal
4.    Risalah al-Wada’, berisi uraian tentang penggerak pertama bagi manusia dan tujuan sebenarnya bagi wujud manusia dan alam
5.    Beberapa risalah tentang ilmu falak dan ketabiban
6.    Risalah Tadbir-al-Mutawahhid
7.    Beberapa ulasan terhadap buku-buku filsafat, antara lain dari Aristoteles, al-Farabi, Porphyrius, dan sebagainya 
Menurut Carra de Vaux, di Perpustakaan Berlin abad 24 risalah manuskrip karangan Ibnu Bajjjah
Di antara karangan-karangan itu yang paling penting ialah risalah Tadbir al-Mutawahhid yang membicarakan usaha-usaha orang yang menjauhi segala macam keburukan masyarakat, yang disebutnya mutawahhid, yang berarti “Penyendiri”. Isi risalah tersebut cukup jelas, sehingga memungkinkan kita dapat bertemu dengan akal-faal dan menjadi salah satu unsur pokok bagi negeri idam-idamannya.


PEMBAHASAN
Ibnu bajjah telah memberikan corak baru terhadap filsafat islam di negeri islam barat dalam teori ma’rifat (epistemologi, pengetahuan), yang berbeda sama sekali dengan corak yang telah diberikan al-Ghazali di dunia timur islam, setelah ia dapat menguasai dunia pikir sepeninggal filosof-filosof islam
Menurut al-Ghazali, ilham merupakan sumber pengetahuan yang penting dan paling dipercaya. Setelah datang Ibnu Bajjah, maka ia menolak teori tersebut dan menetapkan bahwa seseorang dapat mencapai puncak ma’rifat dan meleburkan diri dengan akal-faal, jika ia telah dapat terlepas dari keburukan-keburukan masyarakat, dan menyendiri serta dapat memakai kekuatan pikirannya untuk memperoleh pengetahuan dan ilmu sebesar mungkin, juga dapat memenangkan segi pikiran pada dirinya atas pikiran hewaninya, seperti yang kita dapati dalam risalah Tadbir al-Muwatahhid
Ibnu Bajjah menjelaskan bahwa masyarakat manusia itulah yang mengalahkan perorangan dan melumpuhkan kemampuan-kemampuan berpikirnya, serta menghalang-halanginyac dari kesempurnaan, melalui keburuk-burukannya yang membanjir dan keinginan-keinginannya yang deras. Jadi seseorang dapat mencapai tingkat kemuliaan setinggi-tingginya melalui pemikiran dan menghasilkan ma’rifat yang tidak akan terlambat, apabila akal pikiran dapat menguasai perbuatan-perbuatan seseorang dan mengabdikan diri untuk memperolehnya.

Akhlak, Ibnu Bajjah membagi perbuatan-perbuatan manusia kepada dua bagian. Bagian pertama, ialah perbuatan yang timbul dari motif-naluri dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya, baik dekat atau jauh. Bagian kedua ialah pernuatan yang timbul dari pemikiran yang lurus dan kemauan yang bersih dan tinggi dan bagian ini disebutnya: “perbuatan-perbuatan manusia”.
Pangkal perbedaan antara kedua bagian tersebut bagi Ibnu Bajjah bukan perbuatan itu sendiri melainkan motifnya. Untuk menjelaskan kedua macam perbuatan tersebut, ia mengemukakan seorang yang terantuk dengan batu, kemudian luka-luka, lalu ia melemparkan batu itu. Kalau ia melemparnya karena telah melukainya, maka ini adalah perbuatan hewani yangv didorongoleh naluri kehewanannya yang telah mendiktekan kepadanya untuk memusnahkan setiap perkara yang mengganggunya.
Kalau melemparnya agar batu itu tidak mengganggu orang lain, bukan karena kepentingan dirinya, atau marahnya tidak ada bersangkut paut dengan pelemparan tersebut, maka perbuatan itu adalah pekerjaan kemanusiaan. Pekerjaan terakhir ini saja yang bisa dinilai dalam lapangan akhlak, karena menurut Ibnu Bajjah, hanya orang yang bekerja di bawah pengaruh pikiran dan keadilan semata-mata, dan tidak ada hubungannya dengan segi hewani padanya, itu saja yang bisa dihargai perbuatannya dan bisa disebut orang langit, dan berhak dibicarakan oleh Ibnu Bajjah dalam bukunya.
Setipa orang yang hendak menundukkan segi hewani pada dirinya, maka ia tidak lain hanya harus memulai dengan melaksanakan segi kemanusiaannya. Dalam keadaan demikianlah, maka segi hewani pada dirinya tunduk kepada ketingian segi kemanusiaan, dan seseorang menjadi manusia dengan tidak ada kekurangannya, karena kekurangan ini timbul disebabkan ketundukannya kepada naluri.
Pikiran Ibnu Bajjah tersebut nampaknya telah mempengaruhi Kant dengan teori “wajib”-nya (imperatif), meskipun Kant telah menambah pikiran-pikiran baru yang menyebabkan ia lebih maju dari Ibnu Bajjah.      
Akal dan Pengetahuan, menurut Ibnu Bajjah, pengetahuan yang benar dapat diperoleh melalui akal dan akal ini merupakan satu-satunya sarana yang dapat mewujudkan untuk mencapai kemakmuran dan membangun kepribadiannya. Dengan demikian akal merupakan bagian terpenting bagi manusia.
Menurut Ibnu Bajjah, keajaiban yang ada diantara akal dan unsur imajinasi adalah lewat ruh yang tajam.
Ibnu Bajjah juga menandaskan bahwa Tuhan memenifestasikan pengetahuan dan perbuatan kepada makhluk-makhlukNya. Setiap manusia menerima ini semua sesuai dengan tingkat kesempurnaan eksistensi masing-masing, akal menerima dariNya suatu pengetahuan sesuai dengan kedudukannya dan lingkungan menerima dariNya sesosok-sosok dan bentuk fisik sesuai dengan tingkat dan kedudukan mereka. Melalui akallah manusia mengenal ilmu-ilmu yang disingkapkan kepadanya oleh Tuhan, hal-hal yang dapat dipahami, peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi di masa lalu, inilah pengetahuan ghaib yang diberikan Tuhan kepada hamba-hamba pilihanNya dengan melalui malaikat-malaikatNya.
Wawasan yang paling tinggi adalah akal yang berwawasan ruh, dimana ia merupakan rahmat dari Tuhan. Wawasan yang sempurna ia dimiliki oleh para Nabi. Dan pengetahuan yang paling tinggi adalah mengenai Tuhan itu sendiri dan para malaikatNya, baru kemudian pengetahuan tentang pengetahuan tentang kejadian yang aka terjadi di alam ini. Selain para Nabi yang memperoleh pengetahuan semacam ini, juga orang saleh yang meliputi para wali Tuhandan para sahabat Nabi. Kemudian sejumlah orang yang dikaruniai wawasan itu oleh Tuhan.        
Menurut Ibnu bajjah akal memiliki dua fungsi yaitu memberikan imaji objek yang akan diciptakan kepada unsur imajinasi dan memiliki objek yang dibuat di luar ruh dengan memnggerakkan organ-organ tubuh.
Ia mempercayai adanya kemajemukan akal dan mengacu kepada akal pertama dan akal kedua. Akal manusia yang paling jauh adalah akal yang pertama, dan sebagian akal berasal dari akal pertama itu. Sebagian lain berasal dari akal-akal lain. Hubungan antara yang diperoleh dan tempat asal akal (akal pertama) yang diperoleh itu sama dengan hubungan cahaya matahari yang ada di dalam rumah dengan cahaya yang ada di halaman rumah. Sebab cahaya di halaman rumah disampaikan oleh partikel-partikel secara langsung berbeda dengan cahaya yang ada di dalam rumah.
Akal manusia setapak demi setapak mendekati akal pertama dengan:
a)    Meraih pengetahuan yang didasarkan pada bukti, yang dalam hal ini akal yang paling tinggi direalisasikan sebagai bentuk
b)    Memperoleh pengetahuan tanpa mempelajarinya atau berusaha meraihnya
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Fakhry, Majid. 2001. Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis. Bandung: Mizan.
Hanafi, Ahmad. 1996. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: PT.Bulan Bintang.
Mustofa, A. 1997. Filsafat Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Nasution, Hasyimsyah. 1999. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Zar, Sirajjudin. 2004. Filsafat Islam. Jakarta: PT. Raja Gravindo Persada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar