Jumat, 28 Februari 2014

Pembelajaran Aktif


A.    Pengertian Strategi Pembelajaran Aktif
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan  untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Sedangkan pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan belajar aktif ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajarnya dapat dimaksimalkan. Seperti halnya pada ungkapan yang telah diungkapan oleh Konfusius dalam bukunya Melvin L. Siberman sebagai berikut :
1.    Yang saya dengar, saya lupa.
2.    Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat.
3.    Yang saya dengar, lihat dan pertanyaan/diskusikan dengan orang lain saya mulai paham.
4.    Dari yang saya dengar, lihat, bahas dan terapkan saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan. Yang saya ajarkan kepada orang lain saya kuasai.
Dengan demikian strategi pembelajaran aktif adalah suatu garis-garis besar haluan atau rencana dalam suatu pembelajaran untuk mengembangkan pengetahuan tindakkan serta pengalaman langsung dalam rangka membentuk keterampilan motorik, kognitif dan sosial, penghayatan serta iternalisasi dalam pembentukan sikap siswa dalam usaha mencapai sasaran yang ditentukan.
B.    Prinsip Pembelajaran Aktif
Prinsip pembelajaran aktif adalah suatu proses pembelajaran yang lebih menekankan pada siswanya untuk dapat aktif dalam mengembangkan bakat keterampilan, mengasah pengetahuannya dan menciptakan suasana belajar terdiri bagi dirinya sehingga akan tercipta suasana belajar yang lebih nyaman dan lebih mudah dalam memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru.
Prinsip pembelajaran aktif menurut Melvin L. Silberman:
1.    Memperkenalkan belajar aktif
2.    Menjadikan siswa aktif sejak awal
3.    Membantu siswa mendapatkan pengetahuan, keterampiulan dan   sikap secara aktif
4.    Menjadikan belajar tak terlupakan
Prinsip Pembelajaran aktif dalam psikologi belajar adalah :
1.    Pembelajaran aktif sebagai motivator
2.    Pembelajaran aktif sebagai prinsip latar dan konteks
3.    Pembelajaran aktif sebagai fokus/ pemusatan perhatian
4.    Pembelajaran aktif sebagai prinsip hubungan sosial
5.    Pembelajaran aktif sebagai prinsip belajar sambil bekerja
6.    Pembelajaran aktif sebagai proses perbedaan Individual
7.    Pembelajaran aktif sebagai prinsip menemukan
8.    Pembelajaran aktif sebagai prinsip pemecahan masalah
C.    Urgensi Pembelajaran Aktif
Belajar aktif tidak hanya diperlukan untuk menambah kegairahan namun juga untuk menghargai perbedaan individual dan beragamnya kecerdasan. 
Belajar memerlukan kedekatan mental sebelum memahami materi yang hendak dipelajari. Balajar bukan sekedar pengulangan atau hafalan dan praktek semata, belajar akan lebih efektif bila dibarengi juga dengan keaktifan siswa untuk dapat mengupayakan dalam pemecahan masalah. 
Pembelajaran aktif dapat mengembangkan kecakapan belajar, strategi belajar dan kebiasaan belajar yang fokus. Dengan pembelajaran aktif juga dapat mengembangkan kemampuan menerapkan prinsip-prinsip dan generalisasi yang telah dipelajari pada situasi dan masalah yang baru. 
Dengan semakin berkembangnya zaman semakin maju pengetahuan maka guru dituntut untuk dapat menggunakan strategi mengajar yang lebih inovatif sesuai dengan tujuan dari pembelajaran aktif. Tentu dituntut untuk mengajarkan siswanya agar dapat aktif dan lebih kreatif dalam mengembangkan bakat serta dapat menghayati hal-hal yang dipelajari melalui percobaan dan praktek secara berkelompok atau sendiri sehingga guru disini hanya berperan sebagai fasilitas dan motivator bagi setiap siswa. 
Pembelajaran aktif dapat berpengaruh terhadap cara belajar siswa dalam hal memberikan tugas rutin bagi siswa dan memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan mereka, memberikan satu titik fokus kepada kreatifitas dan kognitif siswa dari aspek prosedur dan memberikan penekanan kebolehan atas apa yang disampaikan siswa, handling dan dapat melakukan pengukuran (Measuring) atas kemampuan mereka
Adapun beberapa macam strategi pembelajaran aktif, menurut Hisyam Zaini, dkk, diantaranya yaitu:
a.    Critical Incident (Pengalaman Penting)
b.    Active Knowladge Sharing ( Saling Tukar Pengetahuan )
c.    True or False  ( Benar atau Salah )
d.    Guided Not taking ( Catatan Terbimbing )
e.    Card Sort ( Sortir Kartu )
f.    The Power of Two ( Kekuatan Dua Kepala )
g.    Everyone is s teacher here ( Semua Bisa jadi Guru )
h.    Index Card Match ( Mencari Pasangan )
i.    Crossword Puzzle ( Teka-Teki Silang )
j.    Practice Rehearsal Pairs ( Praktek Berpasangan )


DAFTAR PUSTAKA
Ahamad, Kamaludin, 2001, Teori Pembelajaran Aktif, Malaysis: MPTI.

Djamarah, Syaiful Bahri dan  Aswin Zain, 2006, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta:   Rineka Cipta.

Siberman, Melvin L. (terjemah:Raisul Muttaqiem), 2004, 101 Active Learning Cara Belajar Siswa Aktif , Bandung: PT. Nuansa.

Usman, Moh.Uzer, 2000,  Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung:  PT. Remaja Rosda   Karya.

Zaini, Hisyam dkk , 2008, Strategi Pembelajaran Aktif , Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.


Sabtu, 08 Februari 2014

Perkembangan Masa Bayi


Bayi merupakan makhluk yang perlu dilindungi. Semua kebutuhannya harus dipenuhi seperti yang diinginkannya, tetapi ia belum pandai menyatakan keinginan itu. Ia hanya pandai menangis. Bila ibu mendengar bayinya menangis, ibu yang pertama kali mempunyai bayi tentu merasa bingung, tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.
Pada saat bayi lahir yang dapat dilakukan bayi ialah menggerakkan bibir dan lidahnya berupa gerakan mengisap dan meludah. Bila bayi diberi susu, air manis, dan sebagainya, ia mengisap-isap. Bila ia diberi air jeruk yang masam, obat yang pahit, ia meludah-ludah mengeluarkan benda yang tidak enak itu.
A.    Perkembangan fisik bayi
Selama dua tahun pertama kehidupannya, perkembangan fisik bayi berlanssung sangat ekstensif. Pada saat lahir, bayi memilki kepala yang sanat besar dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain.tubuhnya bergerak terus menerus ke kiri dan kanan dan sering kali tidak dapa dikendalikan. Mereka juga memiliki refleks yang didominasi oleh gerakan-gerakan yang terus berkembang. Dalam rentang waktu 12 bulan, bayi-bayi dapat duduk, berdiri, membungkuk, memanjat, dan bahkan berjalan. Kemudian, selama tahun kedua, pertumbuhan fisiknya melambat, tetapi pada kegiatan-kegiatan seperti berlari dan memanjat pertumbuhannya justru berlangsung cepat.
Pola perkembangan fisik selama masa bayi:
a.    Berat
Pada usia empat bulan, berat bayi bertambahdua kali lipat. Pada usia satu tahun berat bayi rata-rata tiga kali berat pada waktu ia lahir atau sekitar 21 pon. Pada usia dua tahun rata-rata berat bayi Amerika adalah 25 pon. Peningkatan berat tubuh selama bayi terutama disebabkan karena penigkatan jaringan lemak.
b.    Tinggi
Pada usia empat bulan, ukuran bayi antara 23 dan 24 inci, pada usia satu tahun antara 28 dan 30 inci, dan pada usia dua tahun antara 32 dan 34 inci.
c.    Proporsi fisik
Pertumbuhan kepala berkurang dalam masa bayi, sedangkan pertumbuhan badan dan tungkai meningkatan. Jadi bayi berangsur-angsur menjadi kurang berat di atas dan tampak lebih ramping dan tidak gempal pada masa akhir bayi.
d.    Tulang
Jumlah tulang meningkat selama bayi. Pengerasan tulang dimulai pada awal tahun pertama, tetapi belum selesai sampai masa puber. Ubun-ubun atau daerah otak yang lunak 50% bayi yang lahir telah tertutup pada usia delapan belas bulan, dan pada hampir semua bayi telah tertutup pada dua tahun.
e.    Otot dan lemak
Urat otot sudah pada ada waktu lahir tetapi dalam bentuk yang belum berkembang lambat selama masa bayi dan lemah. Sebaliknya, jaringan lemak berkembang pesat, sebagian kerena tingginya kadar lemak di dalam susu yang merupakan bahan makanan pokok bagi bayi.  
f.    Bangun tubuh
Selama tahun kedua, ketika proporsi tubuh berubah, bayi mulai memperlihatkan kecenderungan bangun tubuh yang karakteristik. Tiga bentuk bangun tubuh yang paling lazim adalah ektomorfik, yang cenderung panjang dan langsing, endomorfik, yang cenderung bulat dan gemuk, dan mesomorfik, yang cenderung berat, keras, dan empat persegi panjang.
g.    Gigi
Rata-rata bayi mempunyai empat hingga enam gigi susu pada usia satu tahun dan 16 pada usia dua tahun. Gigi yang pertama muncul adalah gigi depan, sedangkan yang terakhir adalah gigi geraham. Empat gigi susu terakhir biasanya baru muncul pada tahun pertama masa kanak-kanak.
h.    Susunan saraf
Pada waktu lahir, berat otak adalah seperdelapan berat total bayi, pertambahan berat otak paling pesat pada usia dua tahun. Otak kecil yang berperan penting untuk menjaga keseimbangan dan perasaan tubuh, bertambah beratnya tiga kali lipat satu tahun sesudah kelahiran. Ini berlaku juga untuk otak besar. Sel-sel yang belum matang, yang ada pada waktu kelahiran, terus berkembang sesudah kelahiran tetapi secara relative beberapa sel baru terbentuk.
i.    Perkembangan organ perasa
Pada usia tiga bulan, otot mata sudah cukup terkoordinasi untuk memungkinkan bayi melihat sesuatu secara jelas dan nyatadan sel-sel kerucut sudah berkembang baik untuk memungkinkan mereka melihat warna. Pendenganran berkembang pesat selama waktu ini. Penciuman dan pengecapan yang berkembang baik pada waktu kelahiran, terus membaik selama masa bayi. Bayi sangat tanggap terhadap semua perangsang kulit karena tekstur kulit mereka yang tipis dan kaena semua organ perasa yang berhubungan denagn peraba, tekanan, rasa sakit, dan suhu berkembang dengan baik.  
B.    Perkembangan pengamatan bayi
Pengamatan pada anak kecil bersifat global. Yang mula-mula dilihatnya berupa kesan seluruhnya, kesan umum yang kabur. Kesan-kesan seluruhnya yang tampak samar-samar itu dalam bahasa Jerman disebut gestalt, yaitu totalitas yang mengandung arti yang penuh. Orang yang pertama dikenalnya hanya ibu, itu pun pada saat-saat ibu menyusukannya. Sambil menyusu diperhatikannya wajah ibu, yang tampak hanya berupa kesan umum yang kabur.
Kemudian, setelah berulang kali mengamati wajah ibu dengan lebih baik, barulah tampak lebih jelas bagian-bagian wajah ibu, seperti: mata, hidung, mulutnya, dan sebagainya. Gestalt yang kabur itu sekarang mendapat struktur. Demikianlah pengamatan anak itu berkembang dari gestalt berangsur-angsur menuju ke struktur.
C.    Perkembangan daya ingat bayi
Kognitif adalah sebuah istilah yang dipergunakan oleh psikolog untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan atau semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai, dan memikirkan lingkungannya. Selama masa bayi, kapasitas intelektual atau kognitif bayi telah mengalami perkembangan.
Perkembangan kogntif menurut Piaget, usia bayi berada pada periode sensorimotor. Bayi mengenal obyek-obyek yang berada di lingkungannya melalui sistem pengindraan dan gerakan motoriknya. Meskipun ketika dilahirkan, seorang bayi sangat bergantung dan tidak berdaya, tetapi sebagian alat-alat indranya sudah langsung bisa berfungsi, ada enam subperiode sensorimotor, sebagai berikut:
1.    Modifikasi (pelatihan refleks-refleks) usia 0 - 1 bulan.
Pada fase ini masih terbatas pada kemampuannya untuk melatih refleks-refleks, seperti: menghisap atau menghirup, dan menggenggam. Berkembangnya persepsi egosentris masih belum bisa membedakan dirinya dengan obyek-obyek lain dan melakukan kegiatan refleks.
2.    Pengembangan skema (reaksi pengulangan pertama = primary circular reactions) usia 1 - 4 bulan.
Bayi melakukan kegiatan yang menyenangkan secara sirkular (berulang-ulang) dan bersifat primer (berhubungan dengan tubuh), seperti: mengenyot jempol secara berulang-ulang karena menyenangkan sehingga menjadi kebiasaan.
3.    Reaksi pengulangan kedua (secondary circular reactions) usia 4 – 6 bulan.
Tingkah lakunya lebih berorientasi ke luar. Bayi mengembangkan minatnya atau perhatiannya terhadap peristiwa atau lingkungan sekitarnya. Bayi mulai bisa memanipulasi obyek-obyek. Mulai mengimitasi dan menyusun persepsi klasifikasi dan relasi. Mengulang kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, seperti: menggerak-gerakkan mainan yang mengeluarkan bunyi yang menarik, mengembangkan koordinasi mata tangan.
4.    Koordinasi reaksi-reaksi (skema sekunder atau mengembangkan tingkah laku intensional) 8 – 12 bulan.
Mulai berkembangnya tingkah laku yang interpersonal (disengaja/bertujuan). Bayi mulai dapat membuat cara untuk mencapai tujuan (sesuatu yang diinginkan). Menggunakan kegiatan-kegiatan yang sudah biasa untuk menghadapi situasi baru. Contoh: anak sudah mampu mengangkat bantal dengan satu tangan, sedang tangan yang lain memegang mainan.
5.    Reaksi pengulangan ketiga (eksplorasi) usia 12 – 18 bulan.
Bayi mulai mengubah skema secara sistematik untuk menghasilkan efek-efek baru. Dapat memecahkan masalah melalui trial and error. Anak secara gradual belajar tentang dampak kegiatannya terhadap lingkungannya, dia mulai memahami hubungan sebab akibat, dia sudah dapat menemukan cara memperlakukan suatu objek agar menghasilkan sesuatu yang menarik (menyenangkan). Seperti pada tahap ke empat anak menemukan kesenangan dengan menekan atau memijit mainan. Pada tahap ini anak dapat menemukan cara baru untuk memperoleh tujuan yang sama, seperti dengan cara menginjaknya atau meninjunya dengan tangan.    
6.    Permulaan berpikir (representasi mental) usia 18 – 24 bulan.
Anak sudah mulai mengembangkan kemampuan untuk memahami fungsi-fungsi simbolik atau reppresentasi mental. Sebagai prestasi puncak tahap sensorimotor adalah kemampuan menginternalisasi skema-skema tingkah laku untuk membentuk simbol-simbol mental, atau imajinasi. Pada tahap ini, anak sudah berekspresi secara mental dan memiliki insight untuk memecahkan masalah.
D.    Perkembangan Emosi Masa Bayi
Pada bayi terdapat pola emosi tertentu yang bersifat umum seperti kemarahan (menjerit, meronta, menendang, mengibaskan tangan, memukul), ketakutan (takut terhadap ruang gelap, tempat tinggi, dan binatang), (rasa ingin tahu tehadap mainan baru menjulurkan lidah, membuka mulut, memegang, melempar, mebolak-balik), kegembiraan (tersenyum, tertawa, menggerakan lengan serta kakinya), efeksi (memeluk mainan kesayanganya, mencium barang-barang kesayanganya).
Usia 0-8 minggu, kehidupan bayi sangat dikuasai oleh emosi. Emosi sangat berhubungan dengan perasaan indrawi, dengan kualitas perasaan: senang (like) dan tidak senang (dislike) jasmaniah. Misalnya, bayi senyum atau tidur pulas kalau merasa kenyang, hangat dan nyaman; dan dia menangis kalau merasa lapar, haus, kedinginan atau sakit.
Usia 8 minggu – 1 tahun, perasaan psikis sudah mulai berkembang. Perasaan anak mengalami diferensiasi (penguraian), yaitu dari perasaan senang dan tidak senang jasmaniah menjadi perasaan-perasaan senang, tidak senang, marah, jengkel, terkejut, dan takut.
Usia 1,0 tahun – 3,0 tahun gejala-gejala perkembangan emosi pada usia ini , perkembangan emosinya sebagai berikut.
a.    Emosinya sudah mulai terarah pada sesuatu (orang, benda, atau makhluk lain)
b.    Sejajar dengan perkembangan bahasa yang sudah dimulai pada usia 2 tahun maka        anak dapat menyatakan perasaannya dengan menggunakan bahasa.
c.    Sifat-sifat perasaan anak pada fase ini:
1).   Labil, artinya mudah kembali berubah (sebentar menangis, kemudian tertawa).
2).   Mudah “tersulut” tetapi tidak bertahan lama dan sifatnya  dangkal.
1.    Ungkapan-ungkapan Emosi
Tidak diragukan lagi, bahwa bentuk prabicara yang paling efektif adalah ungkapan emosi. Hal ini disebabkan karena tidak ada yang lebih ekspresif dari isyarat-isyarat wajah yang oleh bayi digunakan untuk mengatakan keadaan emosinya kepada orang lain. Ungkapan emosi merupakan bentuk prabicara yang bermanfaat karena ada dua alasan. Pertama, karena bayi belum mempelajari pengendalian emosi, maka mudahlah bagi orang lain untuk mengetahui emosi apa yang mereka alami melalui ungkapan-ungkapan wajah dan badan. Kedua, bayi lebih mudah mengerti orang lain melalui ungkapan wajah daripada kata-kata.
2.    Pola Emosional yang lazim
a)    Kemarahan
    Stimulus yang biasa membangkitkan rasa marah pada bayi adalah campur tangan terhadap gerakan-gerakan mencoba-cobanya, menghalangi keinginannya, tidak mengizinkan mengerti sendiri dan tidak memperkenalkannya melakukan apa yang dia inginkan.
b)    Ketakutan
    Hal yang paling mungkin menimbulkan ketakutannya adalah suara keras, orang, barang dan situasi asing, ruangan gelap, tempat yang tinggi dan binatang. Perangsang yang terjadi tiba-tibaatau tidak terduga atau yang tidak lazim baginya, biasanya juga membangkitkan rasa takut.
c)    Rasa ingin tahu
    Setiap mainan atau sesuatu yang baru dab tidak biasa adalah perangsang untuk perasaan ingin tahunya, kecuali jika kebaruan itu begitu tegas sehingga menimbulkan ketakutan. Bila rasa takut berkurang, maka ia akan mengganti dengan rasa ingin tahu.
d)    Kegembiraan
    Kegembiraan ditimbulakn oleh kesenangan fisik. Pada bulan kedua, atau ketiga, bayi bereaksi pada orang yang mengajaknya bercanda, menggelitik, mengamati, dan memperhatikannya. Mereka mengungkapkan rasa senang atau kegembiraannya dengan tersenyum, tertawa, dan menggerakkan lengan serta kakinya. Bila rasa senang berlebih, ia berdekut, berdeguk, atau bahkan berteriak denngan gembira, dan semua gerakan tubuh menjadi makin intensif.
e)    Afeksi
    Setiap orang yang mengajaknya bermain, mengurus kebutuhan jasmaninya, atau memperlihatkan afeksi, merupakan perangsang untuk afeksi mereka. Kemudian, mainan dan hewan kesayangan keluarganya mungkin juga menjadi objek cinta bagi mereka. Umumnya bayi mengungkapkan afeksinya dengan memeluk, menepuk, dan mencium barang atau orang yang dicintai. 
E.    Perkembangan Moral Masa Bayi
Bayi tidak memiliki hierarki nilai dan suara hati. Bayi tergolong nonmoral, tidak bermoral maupun amoral, dalam artian bahwa tingkah lakunya tidak dibimbing oleh nilai-nilai moral. Lambat laun ia akan mempelajari kode moral dari orang tua dan kemudian dari guru-guru dan teman-teman bermain dan juga ia belajar pentingnya mengikuti kode-kode moral ini. 
Belajar berperilaku moral diterima oleh sekitarnya merupakan proses yang lama dan lambat. Tetapi dasar-dasarnya mesti sudah diletakkan pada masa ini dan berdasarkan dasar-dasar inilah bayi membangun kode-kode moral yang membimbing perilakunya bila telah menjadi besar nanti. Bayi berada dalam tahap perkembangan moral oleh piaget disebut sebagai moralitas dengan paksaan yang merupakan tahap pertama dari 3 tahapan perkembangan moral. Tahap ini berakhir sampai usia 7 atau 8 tahun dan ditandai oleh kepatuhan otomatis terhadap aturan-aturan tanpa penalaran atau penilaian.
Dalam hal perkembangan moral, masa bayi perlu diarahkan pada kedisiplinan tentang pola perilaku. Disiplin sangat berperan untuk memberikan hukuman terhadap perilaku yang salah dan bentuk pujian untuk perilaku yang dapat diterima secara sosial. Tujuan utama disiplin dalam masa bayi adalah mengajarkan kepada anak, apa yang menurut ia dianggap olek kelompok sosial sebagai benar dan salah, dan mengusahakan agar ia bertindak sesuai dengan pengetahuan ini. Hal ini mulanya dicapai dengan cara pengendalian dari dalam bila ia sudah dapat mempertanggung jawabkan sendiri perilaku mereka.
Sepanjang masa bayi, bayi harus belajar melakukan reaksi-reaksi khusus yang benar terhadap berbagai situasi tertentu dirumah dan disekelilingnya. Tindakan yang salah haruslah selalu dianggap salah terlepas siapa yang mengasuhnya. Kalau tidak bayi akan bingung dan tidak mengetahui apa yang diharapkan daripadanya.
Dengan disiplin yang ketat, yang meliputi memberikan hukuman atau tindakan yang salah, bayi muda beliapun dapat dipaksa mengikuti suatu pola yang tidak menyulitkan bagi orang tua selama tahun kedua pada saat perilaku menjelajah dan kecenderungan membantah kehendak orang tua mempersulitnya untuk diatur daripada tahun pertama.
Sebelum bayi dihukum karena melakukan kesalahan, bayi harus belajar tentang apa yang benar dan apa yang salah. Hal ini tidak berlangsung dalam satu malam. Karena itu, selama masa bayi, tekanan harus diletakkan pada aspek pendidikan disiplin mengajar bayi menguasai benar dan salah dan memberi hadiah berupa pujian dan perhatian kalau apa yang dilakukan benar daripada menghukum kalau berperilaku salah. Ini tidak berarti bahwa hukuman tidak boleh digunakan. Hukuman harus dilakukan karena mempunyai nilai mendidik. Kalau tangan dipukul karena melakukan hal yang salah, maka pukulan menandakan tindakan yang salah dan tidak boleh diulangi lagi.
Banyak orang tua menganggap bahwa bayi tidak dapat mengerti kata-kata pujian dan karenanya mereka menahan diri untuk mengatakan kepada bayi mereka bahwa mereka telah melakukan sesuatu dengan baik. Meskipun hanya sedikit bayi  yang mengerti akan kata-kata pujian, tetapi bayi mengerti ekspresi wajah yang menyenangkan yang mengiringi kata-kata pujian itu, yang berbeda dengan ekspresi yang mengiringi amarah atau bentuk-bentuk hukuman lainnya. Hal ini mendorong bayi untuk mengulangi perilaku yang mendatangkan tanggapan yang baik.
Hal yang penting untuk diketahui pula adalah bahwa penggolongan peran seks semestinya sudah mulai sejak lahir. Hal ini ditunjang pola hubungan ibu dan anak, yang juga mewarnai pola tingkah laku atau kepribadian anak. Demikian pula halnya berkaitan dengan perkembangan pada keagamaan. 
F.    Perkembangan Agama Masa Bayi
Pada fase perkembangan masa bayi, belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.
Menurut Areaold Gessel, anak usia bayi sudah memiliki perasaan ketuhanan. Perasaan ini memegang peranan penting dalam diri pribadi anak. Perasaan ketuhanan pada usia ini merupakam fundamen bagi pengembangam perasaan ketuhanan periode berikutnya, seiring dengan berkembanganya kondisi, emosi dan bahasa maka untuk membantu kesadaran beragamanya. Orang tua sebagai lingkungan pertama bagi anak seyogianya melakuakan hal hal sebagai berikut :
1.    Mengenal nilai nilai dan konsep konsep kepada anak melalui bahasa.
2.    Memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang.
3.    Memberikan contoh dalam mengamalkan ajaran agam secara baik.
G.    Perkembangan Bahasa
Berbicara merupakan sarana berkomunikasi. Untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain, semua individu harus menguasai dua fungsi yang berbeda; kemampuan menangkap maksud yang ingin dikomunikasikan orang lain dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti. Komunikasi dapat dilakukan dalam setiap bentuk bahasa-tulis, lisan, isyarat tangan, ungkapan musik dan artistik, dan sebagainya. Tetapi dalam banyak hal, bahasa lisan merupakan bahasa yang paling efektif dan efisien karena kemungkinan terjadinya salah paham sangat kecil.
Kedua aspek komunikasi, yaitu mengerti apa yang dimaksud oleh orang lain dan kemampuan mengkomunikasikan pikiran dan perasaan sendiri kepada orang lain sehingga dapat dimengerti, terasa sulit dan tidak cepat dikuasai. Tetapi dasar-dasar kedua aspek itu telah diletakkan selama masa bayi, meskipun kemampuan untuk mengerti biasanya lebih besar daripada kemampuan berbicara menjelang berakhirnya masa ini.
Dalam pola belajar berbicara biasanya terdapat empat bentuk prabicara; menangis, berceloteh, isyarat, dan ungkapan-ungkapan emosi. Menangis amat sering dilakukan selama bulan-bulan pertama dan ini merupakan dasar bagi perkembangan bahasa yang sebenarnya, meskipun dari sudut pandang jangka panjang, mengoceh atau berceloteh merupakan tindakan yang paling penting karena sebenarnya inilah yang mengembangkan kemampuan berbicara.
Isyarat dipakai bayi sebagai pengganti bahasa, sedangkan pada anak yang lebih tua atau orang dewasa, isyarat dipakai sebagai pelengkap bahasa. Karena bahasa dipelajari melalui proses meniru, maka bayi perlu memperoleh model atau contoh  yang baik supaya dapat meniru kata-kata yang baik. Mengenai pentahapan perkembangan bahasa ini, William Stern dan Clara Stern dalam Syamsu Yusuf (2001: 58) mengemukakan sebagai berikut:
1.    Masa permulaan, stadium purwoko (6-12 bulan)
Masa ini disebut masa meraban, yaitu masa mengeluarkan bermacam-macam suara yang tidak berarti. Masa ini sebagai permainan pelatihan alat-alat suara: kerongkongan, mulut, dan bibir.
2.    Masa pertama, stadium kalimat satu kata (12-16 bulan)
Pada masa ini anak sudah dapat mengucapkan kata, misalnya mama papa, mamam. Sepatah kata ini sudah merupakan kalimat, tetapi kalimat tidak lengkap. Kata-kata yang diucapkan itu meskipun tidak langsung, tetapi mempunyai maksud tertentu, seperti anak mengucapkan mamah, mungkin ia memanggil mamahnya atau meminta sesuatu dari mamahnya. Pada usia ini anak juga sudah dapat menirukan suara-suara, seperti kucing, burung, kendaraan, dsb.
3.    Masa kedua, stadium nama (16-24 bulan)
Pada masa ini anak sudah mulai timbul kesadaran bahwa setiap orang atau benda mempunyai nama, sehingga disebut stadium nama. Di samping nama orang dan benda, juga nama-nama perbuatan yang disaksikan, atau sifat-sifat sesuatu ditanyakan juga keada namanya. Oleh karena itu, anak sering berbicara sendiri (monolog), baik dengan diri sendiri, maupun dengan benda-benda mainannya.
H.    Perkembangan Sosialisasi
Penelitian tentang penyesuaian sosial anak-anak yang lebih besar dan bahkan para remaja menunjukkan pentingnya peletakan dasar-dasar sosial pada masa bayi. Hal ini berdasarkan dua alasan. Pertama, jenis perilaku yang diperlihatkan bayi-bayi dalam situasi sosial mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosialnya.
Alasan kedua mengapa dasar-dasar sosial yang dini itu penting adalah bahwa sekali terbentuk dasar-dasar itu cenderung menetap kalau anak menjadi lebih besar.
Pola Perkembangan Perilaku Sosial
Perilaku sosial dini mengikuti pola yang cukup dapat diramalkan meskipun dapat terjadi perbedaan-perbedaan karena keadaan kesehatan atau keadaan emosi atau kondisi lingkungan.
1.    Reaksi sosial kepada orang dewasa
1)    Dua sampai Tiga Bulan
Bayi dapat membedakan manusia dari benda mati dan bayi tahu bahwa manusialah yang memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Bayi puas bila berada bersama manusia dan tidak senang kalau ditinggal sendiri.
2)    Empat sampai lima bulan
Bayi ingin digendong oleh siapa saja yang mendekatinya. Ia memberikan reaksi yang berbeda kepada wajah-wajah yang tersenyum, suara-suara yang ramah dan suara-suara yang menunjukkan amarah.
3)    Enam sampai tujuh bulan
Bayi membedakan “teman” dan “orang asing” dengan tersenyum pada yang pertama dan memperlihatkan ketakutan akan kehadiran pada orang yang terakhir. Ini merupakan  awal dari “masa lalu” juga merupakan permulaan dari “masa terikat” yaitu masa dimana bayi menunjukkan keterikatan yang kuat kepada ibunya atau ibu pengganti dan berkurangnya keramah tamahan.
4)    Delapan sampai sembilan bulan
Bayi mencoba meniru kata-kata, isyarat dan gerakan-gerakan sederhana dari orang lain.
5)    Dua belas bulan
Bayi bereaksi terhadap larangan “jangan-jangan”
6)    Enam belas sampai delapan belas bulan
Negativisme, dalam bentuk keras kepala tidak mau mengikuti permintaan atau perintah dari orang dewasa ditunjukkan dengan perilaku menarik diri atau ledakan amarah.
7)    Dua puluh dua sampai dua puluh empat bulan
Bayi bekerja sama dalam sejumlah kegiatan rutin seperti berpakaian, makan, dan mandi.
2.    Reaksi sosial kepada bayi_bayi lain
a.    Empat sampai lima bulan   
Bayi mencoba menarik perhatian bayi atau anak lain dengan melambungkan badan ke atas dan ke bawah, menendang, tertawa atau bermain dengan ludah.
b.    Enam sampai tujuh bulan
Bayi tersenyum kepada bayi lain dan menunjukkan minat terhadap tangisannya.

c.    Sembilan sampai tiga belas bulan
Bayi mencoba meremasi pakaian dan rambut bayi-bayi lain, meniru perilaku dan suara mereka dan bekerja sama dalam menggunakan mainan, meskipun ia cenderung bingung bila bayi lain mengambil salah satu mainannya.
d.    Tiga belas sampai delapan belas bulan
Berebut mainan sekarang berkurang dan bayi lebih bekerja sama dalam  bermain dan mau berbagi rasa.
e.    Delapan belas sampai dua puluh empat bulan
Bayi lebih berminat bermain dengan bayi lain dan menggunakan bahan-bahan permainan untuk membentuk hubungan sosial dengannya.
I.    Perkembangan Seks
Penggolongan peran seks, atau belajar memerankan peran-seks yang benar sebenarnya dimulai sejak lahir. Bayi digolongkan sebagai laki-laki atau perempuan melalui warna selimut dan warna popok, dan ia diperlakukan sebagai laki-laki atau perempuan oleh anggota-anggota yang menekankan tentang jenis kelaminnya kepada tamu-tamu yang datang menengok dan mengagumi bayi yang baru lahir.

DAFTAR PUSTAKA

Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. PT. Remaja RosdaKarya: Bandung.

Hurlock, Elizabeth B. 1997. Psikologi Perkembangan. ERLANGGA: Jakarta.

http://diy4h.wordpress.com/psikologi-perkembangan/ diakses tgl 21 september 2013 pukul 10.34.

Rochmah, Elfi Yuliani. 2005. Psikologi Perkembangan. TERAS: Yogyakarta.

Yusuf, Syamsu. 2002 Cet.3. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. PT.
Remaja Rosdakarya: Bandung.

 Zulkifli. 2002. Psikologi Perkembangan. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung.











Rabu, 05 Februari 2014

Pola Asuh Orang Tua


1.    Pengertian
Pola asuh orang tua dalam perkembangan anak adalah sebuah cara yang digunakan dalam proses interaksi yang berkelanjutan antara orang tua dan anak untuk membentuk hubungan yang hangat dan memfasilitasai anak untuk mengembangkan kemampuan anak dalam perkembangan motorik halus, motorik kasar, bahasa, dan kemampuan sosial sesuai dengan tahap perkembangannya serta mendorong peningkatan kemampuan berperilaku sesuai dengan nilai agama dan budaya yang diyakininya (Supartini 2004, h. 35).
2.    Jenis pola asuh orang tua
Menurut (Wong 2008, h.52) pola asuh orang tua dibagi menjadi 3 yaitu:
a.    Pola asuh otoriter
Pola pengasuhan anak otoriter bersifat pemaksaan, keras dan kaku, dimana orang tua akan membuat berbagai aturan yang harus dipatuhi anak-anaknya, tanpa mau mengetahui perasaan anak, ini menyebabkan komunikasi satu arah saja dan tidak ada feed back dalam mengasuh anak. Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh anak-anak dengan alasan agar anak tetap patuh dan disiplin serta menghormati orang tua yang telah membesarkannya (Wong 2008, h.51).
Pola asuh otoriter orang tua akan menekan daya kreativitas anak yang sedang berkembang, anak tidak akan berani mencoba, dan anak tidak akan mengembangkan kemampuan untuk melakukan sesuatu karena tidak dapat kesempatan untuk mencoba. Anak juga akan takut untuk mengemukakan pendapatnya, sehingga anak menjadi pasif dalam pergaulan (Yusniah, 2008).
b.    Pola asuh demokratis
Pola asuh demokratis adalah orang tua akan melatih anak-anak untuk mengeksplorasi apa yang ada pada diri anak tersebut, sehingga terjadi interaksi dua arah yang saling berkesinambungan. Anak yang diasuh dengan pola asuh demokratis ini, menghasilkan anak yang mempunyai harga diri tinggi, rasa ingin tahu yang besar, puas, kreatif, cerdas, percaya diri, terbuka pada orang tua, menghargai dan menghormati orang tua, tidak mudah stress dan depresi, berprestasi baik dan dapat berinteraksi dengan anak-anak lain (Wong 2008, h.52).
Penerapan pola asuh demokratis berdampak positif terhadap perkembangan anak, karena anak senantiasa dilatih untuk mengambil keputusan dan siap menerima segala konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dengan demikian potensi yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal, karena anak melakukan segala aktivitas sesuai dengan kehendak dan potensinya. Sementara orang tua memberikan kontrol dan bimbingan ketika anak melakukan hal-hal negatif (Yusniah, 2008).
c.    Pola asuh permisif
Pola asuh permisif adalah pola asuh dimana orang tua jarang atau tidak pernah mengontrol perbuatan anaknya. Orang tua memberikan kesempatan pada anak seluas-luasnya dengan pertimbangan bahwa orang tua adalah sumber informasi bagi anak bukan sebagai role model, dengan begitu anak berkembang menjadi anak yang kurang perhatian, anak tidak disiplin, tidak hormat, tidak sensitif, agresif dan umumnya anak menentang kemauan orang tua, merasa tidak berarti, rendah diri, nakal, memiliki kemampuan sosialisasi yang buruk, kontrol diri buruk, dan kurang menghargai orang lain (Wong 2008, h.52).
Pola asuh ini biasanya akan menghasilkan anak–anak yang manja, tidak patuh, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial (Baumrind, 1967 dalam Nuraeni, 2006)
3.    Pola asuh orang tua pada anak toddler (usia 1-3 tahun)
a.    Anak usia 1 tahun (12-18 bulan)
Menurut Laurent (2007, hh. 176-206) pola asuh orang tua pada anak usia 1 tahun adalah sebagai berikut :
1)    Orang tua hendaknya selalu mengajak anak berbicara dan bermain interaktif karena dapat membantu untuk meningkatkan pemahamannya dan membuat anak mampu mengikuti perintah verbal sederhana.
2)    Orang tua harus memahami sesuatu yang ada pada anak dan mampu menahan diri untuk selalu membantunya dan khawatir walaupun anak dalam keadaan menangis.
3)    Orang tua jangan memarahi anak ketika anak berbuat sesuka hatinya, karena anak mulai sadar dengan kemampuannya, orang tua hendaknya mengawasinya dan membiarkannya belajar.
4)    Orang tua hendaknya memberikan pelukan dan pujian ketika anak dapat melakukan hal-hal yang baik., dan cobalah utuk lebih tidak menghiraukan tingkah laku buruknya sehingga secara bertahap anak akan mengerti maksud anda.
5)     Gunakan pengalihan perhatian ketika anak sedang emosi, jangan berkata “tidak” ketika anak marah tetapi ajaklah anak memainkan permainan favoritnya, agar anak tidak belajar mencari perhatian dengan cara-cara yang mengesalkan.
6)    Orang tua harus membantu anaknya untuk belajar berbagi karena pada tahap ini anak cenderung lebih posesif terutama terhadap mainannya.
7)    Jangan gunakan kekerasan seperti memukul anak ketika anak tidak bertingkahlaku sesuai keinginan orang tua, karena pada masa ini anak belum mampu mengambil pelajaran dari hukuman fisik.
8)    Berikan beragam makanan sehat tanpa harus memaksa mengkonsumsi makanan yang tidak anak sukai dan biarkan anak untuk memilih sesuai dengan apa yang dinginkan.
9)    Orang tua hendaknya melibatkan anak sesering mungkin dalam melaksanakan tugas sehati-hari, seperti membiarkan anak belajar memakai pakaiannya sendiri serta memilih pakaian mana yang akan di pakai.
10)    Anak pada tahap ini memang lebih aktif, sebagai orang tua hendaknya lebih bisa mengawasinya dan jangan melarangnya karena takut anak mengalami lecet-lecet atau memar tetapi lebih dihindarkan pada hal-hal yang berbahaya.
11)    Ajaklah anak untuk mengobrol meskipun hanya orang tua yang memahami bahasanya, karena anak dapat memahami apa yang anda bicarakan, mampu mengikuti perintah serta memahami celotehnya.
12)    Bersamaan dengan bertumbuhnya tingkat pemahaman anak, muncul ketakutan yang irasional seperti takut gelap, atau takut hewan, sebagai orang tua cobalah untuk bersimpati dan pada saat yang sama menunjukkan bahwa anda tidak takut.
13)    Hindari membujuk yang berlebihan hanya supaya anak mau makan karena anak akan cenderung selalu melawan jika anak terus memaksanya makan dan doronglah anak untuk makan sendiri baik dengan tangan atau sendok
b.    Anak usia 2 tahun (18-24 bulan)
Menurut Laurent (2007, hh. 217-244) pola asuh orang tua pada anak usia 2 tahun adalah sebagai berikut :
1)    Saat anak mulai berlari, orang tua menyingkirkan segala rintangan dan jauhkan dari tangga.
2)    Ketika anak melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatian orang tuanya, orang tua hendaknya memahami hal tersebut dan memberikan penjelasan bahwa tidak seharusnya dia berbuat seperti itu.
3)    Biarkan anak meniru semua pekerjaan yang orang tua lakukan, Selama apa yang anak lakukan tidak membahayakannya.
4)    Berikan pujian kepada anak ketika anak melakukan apa yang diperintahakan.
5)    Dampingi anak saat bermain dan berilah permainan sesuai dengan apa yang anak inginkan seperti ketika anak ingin mencoret-coret maka berikan anak kertas serta pensil.
6)    Biarkan anak belajar makan dan minum sendiri  dan jangan mempermasalahkan jika makanannya berceceran karena ini merupakan tahap belajar anak.
7)    Berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba keterampilan merawat dirinya seperti melepas pakaian dan memakai sepatu, hal ini penting untuk perkembangan kemandirian anak.
8)    Ajarkan kepada anak untuk berbagi, memuji serta harus mengajarkan sopan santun terhadap orang yang lebih dewasa sehingga anak akan memperoleh keterampilan sosial yang dibutuhkannya untuk berinterkasi dengan orang lain.
9)    Biarkan anak ketika belajar memakai pakaiannya sendiri atau melepasnya, mencuci tangan dan bersabarlah untuk tetap mengawasinya.
10)    Jangan mencoba menghentikan tantrum dengan mengabulkan keinginannya.
c.    Anak usia 3 tahun (24-36 bulan)
Menurut Laurent (2007, hh. 25-36 ) pola asuh orang tua pada anak usia 3 tahun adalah sebagai berikut :
1)    Jangan memaksakan anak untuk menyantap makanan yang tidak anak inginkan karena akan membuatnya semakin tidak menyukainya. Namun, orang tua dapat mengajarinya dengan mencicipinya terlebih dahulu.
2)    Ketika anak sudah bosan dengan sebuah mainan, singkirkan agar tidak mengganggu aktivitas yang lainnya.
3)    Anak sudah memahami rangkaian kalimat yang diucapkan orang lain, maka hindari mengatakan apapun yang tidak diinginkan untuk ditiru.
4)    Ajarkan anak untuk lebih mudah berpisah dengan orang tua, ajarkan anak untuk bisa bermain secara mandiri.
5)    Jelaskan kepada anak ketika orang tua hendak meninggalkannya, seperti dengan memelukknya dan menciumnya atau dengan meberikanya mainan favoritnya agar anak lebih merasa tenang.
6)    Berikan perhatian yang positif kepada anak, pujilah jika melakukan sesuatu dengan baik akan membangun rasa percaya diri dan harga diri.
7)    Tingkatkan kemajuan anak dengan melatihnya mengerjakan keterampilan yang lebih mudah dulu seperti memakai celana dan sepatu.
8)    Anak pada usia ini cenderung lebih condong dengan anak seusianya biarkan anak bermain dengan orang-orang yang disukai.

Senin, 22 April 2013

Tokoh Filsafat Islam

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pada dasarnya, setiap ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah suatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Adapaun objek formalnya adalah metode untuk memahami objek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif.
Biografi Tokoh
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn Yahya ibn Yahya ibn al- Shai’gh al Tujibi al-Andalusi al-Samqusti ibn Bajjah. Ibnu Bajjah dilahirkan di Saragossa, Andalus pada Tahun 457 H (1082 M), berasal dari keluarga al-Tujib karena itu ia dikenal sebagai al-Tujib yang bekerja sebagai pedagang emas (Bajjah = emas). Tetapi, di barat ia lebih dikenal dengan nama Avempace. Secara mendetail perjalanan hidupnya sejak kecil sampai dewasa kurang diketahui.
Selain sebagai filsuf, Ibn Bajjah dikenal sebagai penyair, komponis, bahkan sewaktu Saragossa berada di bawah kekuasaan Abu Bakar ibn Ibrahim al- Shahrawi (terkenal sebagai ibn Tifalwit) dari daulah Al-Murabithun, Ibn Bajjah dipercayakan sebagai wazir. Tetapi, pada tahun  512 H Saragossa jatuh ke tangan Raja Alfonso I dari Arogan dan Ibn Bajjah terpaksa pindah ke Sevilla. Di kota ini ia bekerja sebagai dokter, kemudian ia pindah ke Granada, dan dari sana ia pindah keAfrika Utara, pusat dinasti Murabithun. Malang bagi Ibn Bajjah, setibanya di kota Syatibah ia ditangkap oleh Amir Abu Ishak Ibrahim ibn Yusuf ibn Tasifin yang menuduhnya sebagai murtad dan pembawa bid’ah. Karena pikiran-pikiran filsafatnya yang asing bagi masyarakat islam di Maghribi yang sangat kental dengan ajran sunni ortodoks. Atas berkat jasa Ibn Rusyd yang pernah menjadi muridnya, Ibn Bajjah dilepaskan. Kondisi masyarakat di Baeber yang belum bisa berpikir filosofis tersebut, menyebabkan ia melanjutkan pengembaraannya ke Fez di Marokko. Di sini ia masih dapat melanjutkan kariernya sebagai ilmuan di bawah perlindungan penguasa Murabithun yang ada di sana. Bahkan, hubungannya dengan pihak penguasa istana berjalan baik, sehinggaia diangkat sebagai menteri oleh abu bakar yahya ibn yusuf ibn tasifin untuk waktu yang lama. Akhirnya, ia meninggal pada 533 H (1138 M) di Fez, dan dimakamkan di samping makam Ibn “Arabi. Menurut atau riwayat, ia meninggal karena diracun oleh seorang dokter bernama Abu al-‘Ala ibn Zuhri yang iri hati terhadap kecerdasan, ilmu, dan ketenarannya     
Di antara karya Ibn Bajjah yang terpenting adalah:
1)    Risalah al-Wada’, berisi tentang penggerak pertama bagi wujud manusia, alam, serta beberapa uraian mengenai kedokteran. Buku ini tersimpan di Perpustakaan Bodleaian.
2)    Risalah tadbir al-Mutawahhid, (tingkat laku sang penyendiri), yang sampai sekarang dikenal melalui salinan Salmon Munk dari terjemahan bahasa Ibrani, tetapi dicetak oleh Asin dari perpustakaan Bodleaian dan diterbitkan sesudah wafatnya denagn terjemahan bahasa Spanyol. Isi kitab ini mirip denagn kitab Al-Farabi , al-madinah al-Fadhilah. Hanya ia lebih menekankan kehidupan individu dalam masyarakat, yang disebut Mutawahhid.  Pemikiran filsafatnya termuat dalam kitab ini.
3)    Kitab al-Nafs, berisi keterangan mengenai kegemaran Ibn Bajjah, yakni pemusatan dalam batas kemungkinan persatuan jiwa manusia dengan Tuhan, sebagai aktivitas manusia yang tertinggi dan kebahagiaan yang tertinggi, yang merupakan tujuan akhir dari wujud manusia.
4)    Risalah al-Ittishal al-Aql bi al-Insan (perhubungan akal dengan manusia), berisi uraian tentang pertemuan manusia dengan akal Fa’al.
5)    Komentar terhadap logika Al-Farabi, sampai sekarang masih di perpustakaan Escurial (Spanyol)
6)    Beberapa ulasan terhadap buku-buku filsafat, antara lain dari Aristoteles, Al-Farabi, phorphyrius dsb. Menurut Carra de Vaux, di perpustakaan Berlim ada 24 risalah manuskript karangna Ibn Bajjah. Diantaranya Tardiyyah
7)    Kitab al-Nabat
8)    Risalah al-Ghayah al-Insaniyyah
Ia adalah Abu Bakar Muhammad bin Yahya, yang terkenal dengan sebutan Ibn-us-Shaigh atau Ibnu Bajjah. Orang-orang Eropa pada abad-abad pertengahan menamai Ibnu Bajjah dengan “Avempace”, sebagaimana mereka menyebut nama-nama Ibnu Sina, Ibnu Gaberol, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd, masing-masing dengan Avicenna, Avicebron, Abubacer, dan Averroes.
Ibnu Bajjah dilahirkan di Saragosta pada abad ke-11 Masehi. Tahun kelahirannya yang pasti tidak diketahui, demikian pula masa kecil dan masa mudanya. Sejauh yang dapat dicatat oleh sejarah ialah bahwa ia hidup di Serville, Granada dan Fas, menulis beberapa risalah tentang logika di kota Serville pada tahun 1118 M, dan meninggal dunia di Fas pada tahun 1138 M ketika usianya belum lagi tua. Menurut satu riwayat, ia meninggal karena diracuni oleh seorang dokter yang iri terhadap kecerdasan, ilmu, dan ketenarannya.
Buku-buku yang ditinggalkannya ialah:
1.    Beberapa risalah dalam ilmu logika, dan sampai sekarang masih tersimpan di Perpustakaan Escurial (Spanyol)
2.    Risalah tentang jiwa
3.    Risalah al-Ittisal, mengenai pertemuan manusia dan akal-faal
4.    Risalah al-Wada’, berisi uraian tentang penggerak pertama bagi manusia dan tujuan sebenarnya bagi wujud manusia dan alam
5.    Beberapa risalah tentang ilmu falak dan ketabiban
6.    Risalah Tadbir-al-Mutawahhid
7.    Beberapa ulasan terhadap buku-buku filsafat, antara lain dari Aristoteles, al-Farabi, Porphyrius, dan sebagainya 
Menurut Carra de Vaux, di Perpustakaan Berlin abad 24 risalah manuskrip karangan Ibnu Bajjjah
Di antara karangan-karangan itu yang paling penting ialah risalah Tadbir al-Mutawahhid yang membicarakan usaha-usaha orang yang menjauhi segala macam keburukan masyarakat, yang disebutnya mutawahhid, yang berarti “Penyendiri”. Isi risalah tersebut cukup jelas, sehingga memungkinkan kita dapat bertemu dengan akal-faal dan menjadi salah satu unsur pokok bagi negeri idam-idamannya.


PEMBAHASAN
Ibnu bajjah telah memberikan corak baru terhadap filsafat islam di negeri islam barat dalam teori ma’rifat (epistemologi, pengetahuan), yang berbeda sama sekali dengan corak yang telah diberikan al-Ghazali di dunia timur islam, setelah ia dapat menguasai dunia pikir sepeninggal filosof-filosof islam
Menurut al-Ghazali, ilham merupakan sumber pengetahuan yang penting dan paling dipercaya. Setelah datang Ibnu Bajjah, maka ia menolak teori tersebut dan menetapkan bahwa seseorang dapat mencapai puncak ma’rifat dan meleburkan diri dengan akal-faal, jika ia telah dapat terlepas dari keburukan-keburukan masyarakat, dan menyendiri serta dapat memakai kekuatan pikirannya untuk memperoleh pengetahuan dan ilmu sebesar mungkin, juga dapat memenangkan segi pikiran pada dirinya atas pikiran hewaninya, seperti yang kita dapati dalam risalah Tadbir al-Muwatahhid
Ibnu Bajjah menjelaskan bahwa masyarakat manusia itulah yang mengalahkan perorangan dan melumpuhkan kemampuan-kemampuan berpikirnya, serta menghalang-halanginyac dari kesempurnaan, melalui keburuk-burukannya yang membanjir dan keinginan-keinginannya yang deras. Jadi seseorang dapat mencapai tingkat kemuliaan setinggi-tingginya melalui pemikiran dan menghasilkan ma’rifat yang tidak akan terlambat, apabila akal pikiran dapat menguasai perbuatan-perbuatan seseorang dan mengabdikan diri untuk memperolehnya.

Akhlak, Ibnu Bajjah membagi perbuatan-perbuatan manusia kepada dua bagian. Bagian pertama, ialah perbuatan yang timbul dari motif-naluri dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya, baik dekat atau jauh. Bagian kedua ialah pernuatan yang timbul dari pemikiran yang lurus dan kemauan yang bersih dan tinggi dan bagian ini disebutnya: “perbuatan-perbuatan manusia”.
Pangkal perbedaan antara kedua bagian tersebut bagi Ibnu Bajjah bukan perbuatan itu sendiri melainkan motifnya. Untuk menjelaskan kedua macam perbuatan tersebut, ia mengemukakan seorang yang terantuk dengan batu, kemudian luka-luka, lalu ia melemparkan batu itu. Kalau ia melemparnya karena telah melukainya, maka ini adalah perbuatan hewani yangv didorongoleh naluri kehewanannya yang telah mendiktekan kepadanya untuk memusnahkan setiap perkara yang mengganggunya.
Kalau melemparnya agar batu itu tidak mengganggu orang lain, bukan karena kepentingan dirinya, atau marahnya tidak ada bersangkut paut dengan pelemparan tersebut, maka perbuatan itu adalah pekerjaan kemanusiaan. Pekerjaan terakhir ini saja yang bisa dinilai dalam lapangan akhlak, karena menurut Ibnu Bajjah, hanya orang yang bekerja di bawah pengaruh pikiran dan keadilan semata-mata, dan tidak ada hubungannya dengan segi hewani padanya, itu saja yang bisa dihargai perbuatannya dan bisa disebut orang langit, dan berhak dibicarakan oleh Ibnu Bajjah dalam bukunya.
Setipa orang yang hendak menundukkan segi hewani pada dirinya, maka ia tidak lain hanya harus memulai dengan melaksanakan segi kemanusiaannya. Dalam keadaan demikianlah, maka segi hewani pada dirinya tunduk kepada ketingian segi kemanusiaan, dan seseorang menjadi manusia dengan tidak ada kekurangannya, karena kekurangan ini timbul disebabkan ketundukannya kepada naluri.
Pikiran Ibnu Bajjah tersebut nampaknya telah mempengaruhi Kant dengan teori “wajib”-nya (imperatif), meskipun Kant telah menambah pikiran-pikiran baru yang menyebabkan ia lebih maju dari Ibnu Bajjah.      
Akal dan Pengetahuan, menurut Ibnu Bajjah, pengetahuan yang benar dapat diperoleh melalui akal dan akal ini merupakan satu-satunya sarana yang dapat mewujudkan untuk mencapai kemakmuran dan membangun kepribadiannya. Dengan demikian akal merupakan bagian terpenting bagi manusia.
Menurut Ibnu Bajjah, keajaiban yang ada diantara akal dan unsur imajinasi adalah lewat ruh yang tajam.
Ibnu Bajjah juga menandaskan bahwa Tuhan memenifestasikan pengetahuan dan perbuatan kepada makhluk-makhlukNya. Setiap manusia menerima ini semua sesuai dengan tingkat kesempurnaan eksistensi masing-masing, akal menerima dariNya suatu pengetahuan sesuai dengan kedudukannya dan lingkungan menerima dariNya sesosok-sosok dan bentuk fisik sesuai dengan tingkat dan kedudukan mereka. Melalui akallah manusia mengenal ilmu-ilmu yang disingkapkan kepadanya oleh Tuhan, hal-hal yang dapat dipahami, peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi di masa lalu, inilah pengetahuan ghaib yang diberikan Tuhan kepada hamba-hamba pilihanNya dengan melalui malaikat-malaikatNya.
Wawasan yang paling tinggi adalah akal yang berwawasan ruh, dimana ia merupakan rahmat dari Tuhan. Wawasan yang sempurna ia dimiliki oleh para Nabi. Dan pengetahuan yang paling tinggi adalah mengenai Tuhan itu sendiri dan para malaikatNya, baru kemudian pengetahuan tentang pengetahuan tentang kejadian yang aka terjadi di alam ini. Selain para Nabi yang memperoleh pengetahuan semacam ini, juga orang saleh yang meliputi para wali Tuhandan para sahabat Nabi. Kemudian sejumlah orang yang dikaruniai wawasan itu oleh Tuhan.        
Menurut Ibnu bajjah akal memiliki dua fungsi yaitu memberikan imaji objek yang akan diciptakan kepada unsur imajinasi dan memiliki objek yang dibuat di luar ruh dengan memnggerakkan organ-organ tubuh.
Ia mempercayai adanya kemajemukan akal dan mengacu kepada akal pertama dan akal kedua. Akal manusia yang paling jauh adalah akal yang pertama, dan sebagian akal berasal dari akal pertama itu. Sebagian lain berasal dari akal-akal lain. Hubungan antara yang diperoleh dan tempat asal akal (akal pertama) yang diperoleh itu sama dengan hubungan cahaya matahari yang ada di dalam rumah dengan cahaya yang ada di halaman rumah. Sebab cahaya di halaman rumah disampaikan oleh partikel-partikel secara langsung berbeda dengan cahaya yang ada di dalam rumah.
Akal manusia setapak demi setapak mendekati akal pertama dengan:
a)    Meraih pengetahuan yang didasarkan pada bukti, yang dalam hal ini akal yang paling tinggi direalisasikan sebagai bentuk
b)    Memperoleh pengetahuan tanpa mempelajarinya atau berusaha meraihnya
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Fakhry, Majid. 2001. Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis. Bandung: Mizan.
Hanafi, Ahmad. 1996. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: PT.Bulan Bintang.
Mustofa, A. 1997. Filsafat Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Nasution, Hasyimsyah. 1999. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Zar, Sirajjudin. 2004. Filsafat Islam. Jakarta: PT. Raja Gravindo Persada.